Thursday, July 31, 2003

madya....



innalillahi wainailaihi rojiun, telah pulang ke rahmatulloh temen kita bernama madya aka wongedan, semoga amal kebaikan nya di terima disisinya .. aminn..

Insomnia.....



Tiga minggu ini gue ga bisa tidur malam.... ngga ngantuk juga... huehuhuehe nyebelin kan.... efeknya badan cape dan pikiran melayang kmana-mana..... korbannya, yang no hpnya ada di gue... hehehhee.....

Wel, smua harus diatasi...segera. ada ide? Gimme advice pls...

:)

Wednesday, July 30, 2003

Kenapa yah, kita sering kali menjadi bijak jika 'ngedengerin orang curhat. Kalimat-kalimat penambah spirit, lancar mengalir dari bibir kita. Dan jika mereka yang curhat itu bilang :" Gue nggak bisa! Elo nggak ngerti sih masalahnya! dan bla.. bla.. bla..." kita berpikir bahwa mereka itu cengeng! Kita juga merasa bahwa mereka cuma orang-orang yang lemah, yang cuma mampu bermain dengan perasaan, nggak pernah mau pake logika! Kita selalu merasa bahwa kita lebih kuat, bahwa kita lebih bisa melihat permasalahannya dengan jernih, lebih bisa berpikir logis, lebih segalanya....

Hm.. tapi pernah kah kita berpikir -sekali saja dalam hidup kita- apakah kita juga cukup bijak melihat permasalahan kita sendiri?? Apakah semua kalimat yang kita sampaikan kepada orang lain, telah mampu kita terapkan terhadap diri sendiri? Apakah kita cukup kuat, sehingga mampu menepiskan keinginan gila -untuk bunuh diri misalnya- ? Apakah bukan sebaliknya, bahwa ternyata kita ini lemah??

Kita memang jarang -kalo nggak mau dibilang tidak - bisa bijak terhadap diri sendiri! Tapi nggak ada salahnya kalo itu dimulai dari sekarang, dari hari ini! Seperti yang gue pengen juga lakuin...

Thursday, July 24, 2003

lagu lagu yang lagi gue suka



huehuhueuehe norak banget nee... ngepost lirik lagu... egp ah....

Johan UntungM

Gubahanku



kutuliskan lagu ini
ku persembahkan padamu
walau pun tiada indah
syair lagu yang kugubah

kuingatkan kepadamu
akan janjimu padaku
duhai gadis pujaanku
jangan kau tinggalkan daku

*
walau apa yang terjadi
tabahkan hatimu slalu
jangan sampai kau tergoda
mulut manis yang berbisa

setahun kita berpisah
sewindu terasa sudah
duhai gadis pujaanku
cintaku hanya padamu

(Repeat *)

cinta...ku...hanya...padamu...


Young Favourite

Jangan Pernah Berkata Benci



bagaikan malam tak berbintang
tanpamu disisi slalu
bagaikan bunga tak tersirami
ku kan layu...
lunglai tak berseri

*
jangan pernah berkata benci...
padaku...
jangan pernah berkata kau akan....
tinggalkanku...

sayangi daku selama-lamanya
setiaku semakin nyata
semoga cinta antara kita
tiada satu penghalang menimpa

(Repeat *)

(Repeat *)



Wednesday, July 23, 2003

Bukan dongeng Terindah Tentang Cinta (3)



Denpasar, 13 Mei 2002, Usai Nyepi.

Ale. Begitu singkatnya namaku. Secara berseloroh, kawan-kawanku sering mempelesetkannya sebagai Anak Leak. Aku adalah Anak Lelaki. Tentu saja aku lelaki. Diselangkanganku terdapat sepotong tongkat mini yang ujungnya tumpul berlubang. Sebentuk tongkat yang unik, karena ia bisa mengeras, membesar dan kemudian kembali mengendur. Tergantung situasi yang ada. Yang rada mengherankan, tongkat mini ini selalu mengeras tiap pagi juga diwaktu waktu lain ketika ada sesuatu yang inda melintas didepan mata.

Dengan sebatang tongkat mini ini, kelak seorang lelaki kan terbukti apakah ia lelaki sejati atau bukan. Apa hubungannya? begini. Banyak adagium tentang kesejatian lelaki. Misalnya bahwa lelaki sejati adalah mereka yang pernah menaklukkan berbagai puncak gunung, mereka yang merokok merk tertentu, mereka yang banyak gonta-ganti cewe. Tapi bagiku, bukan itu. Yang menjadi penentu kesejatian seorang lelaki adalah bisa tidaknya ia membuat hamil perempuan. Bukankan ujung-ujungnya disana? Dan tentu saja, berkat kerjasama yang erat antara si tongkat mini yang sering nakal dan lawannya yang merekah itu.

Ale, anak Lelaki yang kini berada dalam tahap awal kedewasaan. Belum sepenuhnya dewasa, karena aku merasa bahwa untuk bisa dikatakan dewasa, selain tidak lagi berperilaku kekanak-kanakan, seseorang musti hidup dengan sebuah kemandirian dan kematangan mental untuk menghadapi perubahan hidup. Aku merasa belum berada pada level itu. Beberapa perubahan dan tantangan hidup terkadang kuhadapi dengan tangan terkepal namun tak jarang juga aku hindari dan melarikan diri darinya.

Semua tergantung situasi dan kalkulasi. Bukankah tiap permasalahan bisa diperhitungkan? O`..lebih tepat ditimbang-timbang. Timbangan baik-buruk, untung-rugi, dan kemampuan diri. Kalau memang sebuah masalah bagiku bisa dihadapi dengan kemampuanku sendiri dan perhitungan lain tanpa emosional, tentu akan kuhadapi. Sebaliknya, jika semuanya tidak memadai kurasa lebih baik menghindarinya. Jeleknya tak jarang pula, yang kulakukan bukan keduanya tapi satu yang terakhir. Melarikan diri. Ini sebenarnya pilihan kecut namun acapkali ini juga adalah pilihan terbaik.

Apakah ini berarti sebuah karakter yang tidak punya konsistensi? Kurasa tidak juga. Menghadapi persoalan tanpa persiapan hasilnya adalah sebuah kebodohan. Menghindari masalah bukan berarti tak berani menghadapinya, namun dibutuhkan persiapan untuk menghadapinya. Tentunya diwaktu yang lain. Yang paling unik terkadang adalah kondisi yang memaksa dan tak terduga. Mau tak mau harus dihadapi, karena untuk dihindari apalagi ditinggalkan pertaruhannya cukup besar. Harga diri misalnya. Yah.

Pada akhirnya, kembali pada sosok yang menghadapi persoalan tersebut. Bagaimana sikap, kesiapan dan pengalamannya. Masing masing orang, punya pembenaran dan pembelaaan atas alasan dan tujuan yang ia pilih.

Denpasar usai hari raya nyepi masih terasa lengang. Banyak warga kota mudik ke kampung halamannya untuk merayakan hari raya in bersama keluarganya. Hari raya nyepi merupakan sebuah hari raya yang terbilang unik. Ketika hari raya Nyepi tiba, kota Denpasar dan tempat lain di pulau Bali sepi. Lengang tanpa suara. Tak ada gemuruh suara knalpot yang meraung-raung mengebulkan asap, tak ada hingar-bingar orang berlalu lalang. Sunyi, sungguh sunyi. Kalaupun ada suara kendaraan melintas di jalan raya, bisa diyakini itu adalah ambulance atau kendaraan untuk sarana darurat lain. Untuk kendaraan-kendaraan itu, memang diberi ijin khusus untuk tetap beroperasi sesuai kebutuhan.

Malam harinya, semua gelap. Tak ada lampu yang menyala, kecuali nyala lilin untuk rumah tangga yang mempunyai bayi atau karena situasi khusus yang membutuhkan penerangan semisal ada orang sakit. Suasana hari raya itu begitu khusuk. Walau memang tak bisa dipungkiri terjadi satu-dua pelanggaran karena memang tabiat manusia yang suka melanggar aturan.

Hari belum begitu siang, ketika aku pergi ke wartel untuk nelpon Shelma di Jogja. Ada kerinduan yang memuncak dalam ubun-ubun kepalaku untuk sekadar mendengar suaranya. Dering bunyi telepon berbunyi diseberang sana. Seorang ibu menjawab dan memberitahukan bahwa Shelmaku sedang terlelap dalam tidurnya.

Adakah Ia memimpikan diriku? Bagaimana rupaku dalam mimpinya? Segagah aslinya? Semoga saja. Aku masih belum tau banyak tentang kekasihku ini. Kami saling mencintai tanpa basa basi. Berhubungan cinta kasih tnpa pernah berjumpa. Kesemuanya itu lewat sebuah media interaktif yang sangat memukau diriku. Internet.

Yeah. Ketika berada dalam lingkup itu, semua terasa begitu luas, besar dan tanpa batas. Menjadi siapa saja bukan sesuatu yang sulit. Sebaliknya, yang sulit adalah menjadi diri sendiri seutuhnya. Terlebih melalui pogram relay chat yang populer seperti mIRC. Komunikasi melalui text tak jarang mendistorsi siapa kita, bagaimana kita. Maka kurasa, tantangan terberat bergulat dalam dunia itu adalah menjadi diri sendiri. Bisakah seorang Ale tetap apa adanya Ale walau hidup di dunia cyber? Aku menjawabnya bisa. Aku telah mencobanya dan aku menjadi diriku sendiri.

Sampai satu ketika aku bertemu Shelma, dirikulah yang muncul. Ia pun begitu. Ditambah berbagai kebetulan yang mengiringi, dan dengan kedalaman tekad aku bertekad menyatukan semuanya dalam sebuah tali cinta. Agak sulit menggapainya pada awal mula aku mendekat, namun pada akhirnya aku meraih hatinya. Sungguh ini sesuatu yang luar biasa, ketika aku menghadapi rencana kerja mempersiapkan sebuah tabloid bersama kawan, aku bertemu dengannya yang juga mantan aktivis pers kampusnya. Disaat yang sama batinku membutuhkan sentuhan lembut intuisi perempuan. Aku menemukan semuanya pada diri Shelma.

***


"..if he love you....
....like I love you....."

When we dance. Sting melantunkannya dengan penuh perasaan. Lagu itu mengalun lembut dari komputer dalam ruangan 4x5 meter persegi, sebuah warnet yang menjadi langgananku. Situasi warnet yang sangat personal dan hening membuat lagu itu terasa beda untuk di nikmati.

Sebuah komputer berprosesor pentium 233mmx ada dihadapanku. Sebuah mesin kecil yang telah merubah wajah dunia. Wajahku juga. Sering aku menjadi pucat karena berlama-lama berinteraksi di dengannya. Sampai saat itu, aku belum memaknai makna yang tersirat dalam lagu itu.

Keadaan berubah 180 derajat satu jam kemudian. Perasaanku yang sejak malam sebelumnya gelisah dan When we dance yang dilantunkan Sting rupanya sebuah pertanda akan sebuah perubahan yang besar.

Shelma dijodohkan orangtuanya dan Ia menyetujuinya tanpa mampu mengelak.
Entah kenapa. Padahal, hari yang sama ketika kami jadian, Ia pun menuturkan bahwa ia sedang dilamar oleh keluarga kawan ayahnya namun ia berani menolak.

"Semua diserahkan pada Shelma untuk mengambil keputusan,"katanya pagi itu.

Aku hanya bisa bergumam dalam hati,

"Ya Tuhan, dimanakah engkau kini? Ujian apalagi ini?"


Terbayang situasi yang dihadapi Shelmaku. Tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa hingga Ia tak mampu menolaknya. Ini yang aku belum tau. Kupandangi fotonya di web kesayanganku. Terbayang ia menangis. Mata indahnya basah, sembab. Gejolak emosiku meluap. Aku akan menjemputnya. Tak ada kata lain.Aku tak ingin meninggalkannya sendiri, aku tak ingin melarikan diri dari masalah ini.
Bukankah jika kami bisa bertemu, kami dapat menghadapinya bersama-sama?
Bukankah ada pepatah berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing?

Semua itu ada tentu bukan tanpa alasan. Dalam pikiranku, ketika kami bertemu nanti, kami bisa bahas banyak alternatif pemecahan masalah ini bersama-sama.
Bahkan jika perlu menghadapi Ayah Shelma untuk mengutaran perasaan kami sebenarnya. Orang tua manapun, tetap adalah manusia yang masih bisa diajak bicara. Orang muda mungkin emosional, tapi tidak selamanya salah. Perubahan selalu ada di kamum muda. Dan itu telah kusampaikan padanya. Shelma berkeras melarang, namun terlambat dan tak lagi berguna. Aku telah mengambil keputusan.

Warnet itu segera kutinggalkan. Hatiku bergejolak. Tornado kesayanganku kupacu penuh emosi. Lelaki manakah yang akan terima kekasihnya dijodohkan dengan orang lain? Tamparan yang terasa amat perih di hatiku.
Eh, emangnya hati bisa ditampar?

***


Stasiun Lempunyangan, dua hari kemudian.

Stasiun lempuyangan terlihat ramai pagi itu ketika kakiku menginjakkan kaki untuk
kali pertama aku menjalin cinta dengan Shelma di jogjakarta. Situasi di stasin itu tak jauh beda dengan keebanyakan stasiun lain di berbagai kota di bumi pertiwi ini. Sepanjang peron stasiun dipenuhi pedagang jajan dan oleh-oleh khas kota ini.
Disini, bakpia bathok menjadi menu utama. Di semarang, jenang kudus dan wingko babad. Selalu ada yang khas di setiap tempat yang aku singgahi.

Pagi tadi di surabaya, ketika aku transit dan kereta mutiara timur yang berakhir di stasiun gubeng dan hendak melanjutkan perjalanan ke Jogja, aku sempat meelpon Shelmaku. Apa yang aku dengar tak jauh berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya. Memintaku untuk tidak berangkat dan tadi pagi, memintaku membatalkan perjalanan ke jogja ini. Ia berkeras ingin menghadapi semuanya sendiri. Huh, mana bisa? Bagiku, sekali langkah diayunkan, pantang aku tarik mundur kembali. Aha. Aku jadi ingat komentar seseorang yang kuanggap kakak di semarang, Mbak Herny.

Mbak Herny pernah bilang,
"kekeras kepalaan yang ada padamu..bisa dipositifkan sebagai sikap pantang menyerah..."
Kata-kata yang selalu kuingat...bahwa aku ga boleh gampang menyerah.
Sekeras apapun tantangan yang kuhadapi.

Pagi tadi pula, ketika nelpon itu, kembali kupertegas, bahwa aku tak akan surut melangkah.

"Aku akan tetap mencarimu Shelma...." Kutegaskan padanya.

Yah. Hanya ketegasan yang memperkuat nyaliku, yang jujur saja terasa tercabik-cabik. Sebelum kepastian keberangkatanku ke Jogja ini, beberapa kali kami saling kontak. Aku sempat menunda perjalananku sehari. sebuah masalah vital menghadang. Ketiadaan biaya. Aku terhitung sangat boros dalam banyak urusan satu ini. Tapi selalu menemukan jalan untuk smua itu, walau dengan jalan meminjam. Aku meminjam sama kawanku si Reza, sebesar ongkos perjalananku.
Ah...susahnya ia pun menahanku agar tidak berangat segera. Barang kiriman hasil cardingnya sudah tiba. Dan kenapa menahanku? ia menggunakan alamatku. Sungguh menjengkelkan.

Sempat pula sebelumnya aku mengontak beberapa kawan yang ada di kota ini.
Bagaimanapun aku harus perhitungkan banyak hal yang mungkin terjadi,
bahkan untuk sekadar menginap. Tak sulit bagiku untuk bermalam dimanapun di berbagai kota. Setiap kota aku punya tempat persinggahan.

Beberapa kali aku mengontak shelma melalui ponselnya. Mati. Hanya suara mailboxnya yang terdengar. Beberapa kali aku mencoba telpon ke rumahnya,
oleh yang menerima dikatakan shelma di kantor. blar!! dimana kantornya?
Sungguh brengsek. Ketika situasi membutuhkan, aku bahkan tak tau dimana ia berada dan dimana kantornya. Ah, terlalu asyik masyuknya kami menyelaraskan isi hati sampai hal-hal sepele kayak gini terlupakan untuk ditanya. Cinta membutakan? Apa yang kualami ini, mungkin yang dimaksud.

Dengan keberangkatanku ini pula, aku harus menempuh beberapa pilihan sulit yang aku kalahkan. Si Nico, kawan yang mengajakku memulai usaha Tabloid telah berencana usai nyepi akan menemui calon investor bersama-sama dengan Bowo kawanku yang lain. Kami akan presentasi tentang kesiapan mengerjakan tabloid itu.

Sebelum aku berangkat, persiapan-persiapan kearah sana telah kami persiapkan.
Proposal penawaran, Cash Flow, Dummy dan termasuk keuntungan sebuah tabloid. Perhitungan-perhitungan dalam menyusun persiapan tabloid itu pun tak terlepas dari berbagai kemungkinan merugi, walau Nico sangat yakin bisnis ini menguntungkan. Ia begitu yakinnya karena ia didukung seorang marketing kawan lamanya yang bisa terbilang expert. Dengan keberangkatanku ini, dua kawanku itu berangkat presentasi tanpaku. Entah bagaimana hasilnya.

"Mas,..Taksi?" seseorang menyapaku. Seorang sopir taksi.

Gelagapan aku tersadar dari lamunanku di bangku biru yang ada di stasiun itu.
Seorang sopir taksi tersenyum ramah menawarkan jasa.

"O..Ngga pak. Terimakasih. Saya mau ngopi dulu."

Kutampik tawarannya sehalus mungkin agar
tidak menyinggung perasaannya. Aku ingat bahawa aku saat ini di jogja.
Menurut cerita filsafat yang pernah aku baca, karakter orang Jogja bisa di lihat melalui Blangkon yang dikenakannya, yang mempunyai gundukan di belakang.
Filosofinya, di depan mereka akan tampak halus, dan jika punya ganjalan dalam hati akan dipendam dalam hati. Entah benar atau ngga, aku ga tau pastinya.
Yang jelas, takkan ada asap tanpa api.

Kutinggalkan stasiun itu. Kakiku melangkah keseberang jalan stasiun. Disana terlihat ada sebuah wartel dan didepannya beberapa warung kopi.
Rasanya aku perlu mempersiapkan dan memikirkan banyak hal sebelum melanjutkan langkah.

Sambil menunggu kopiku disiapkan, kusempatkan kembali nelpon Shelma. Lagi-lagi mailbox. Kutelepon tiga kawan lain dan mengabarkan aku sudah disini, dua diantaranya siap menjemput. Luar biasa. Ketika semua itu sudah selesai, kulihat segelas kopi telah menantiku. Aku berusaha menikmatinya.

bersambung....

Layla Majnun:roman cinta paling populer & abadi



TIADA kisah cinta yang termashur dan abadi seperti kisah Layla-Majnun atau Qays dan Layla. Dan tidak ada kajian sebuah roman yang begitu banyak, mendalam daan terus berjalan dari generasi ke generasi seperti kajian terhadap roman cinta Qays bin al Mulawwah. Juga tiada hikayat yang memiliki demikian banyak versi, selain cinta si gila (majnun) dari marga Amir terhadap Laylanya.

Paragraf diatas, yang sengaja di tulis italic itu, adalah paragraf pertama dalam pengantar buku ini yang ditulis oleh penyadurnya, Sholeh Gymsar. Buku ini, dalam bahasa Indonesia disadur secara bebas oleh Sholeh Gymsar dan selain dalam versi bahasa indonesia, terdapat berbagai versi lain dalam bahasa yang lain pula. Diantaranya, versi bahasa Inggris oleh James Atkison yang terbit dengan judul Laili And Majnun, A Poem. Dalam bahasa Arab oleh Abu Bakar Walbiy dengan judul Qays bin Al Mulawah, Majnun Layli.Dalam bahasa Indonesia ini sendiri diterbitkan oleh penerbit Navila Jogjakarta.

***


Tersebutlah seorang anak manusia bernama Qays, putra seorang pemimpin kabilah bani Amir yang hidup dilembah Hijaz. Lembah Hijaz ini terletak antara Makkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawarah. Qays merupakan anak semata wayang yang sangat ditunggu-tunggu kelahirannya. Ia diharapkan akan meneruskan kepemimpinan ayahnya di kabilah tersebut. Karena anak semata wayang, terlebih mengingat kelahirannya yang begitu diharapkan, pantaslah jika seluruh perhatian keluarga tercurah padanya. Sejak kelahiran Qays, Syed Omri, ayahnya itu, seolah tak ingin sekejap pun melewatkan kebahagiaan bersama putra kesayangannya. Tiap detik waktunya dimanfaatkan untuk menimang putra kesayangannya.

Menginjak usia remaja, seperti layaknya remaja lain, Qays dikirim kepada seorang guru untuk belajar padanya, dengan harapan kelak menjadi pemuda terhormat. Qays menjadi salah satu siswa yang cerkun: cerdas dan tekun. Ia dapat dengan cepat menerima pelajaran yang disampaikan gurunya.

Diantara banyak siswa yang berguru disana, tersebut pula seorang gadis manis yang wajahnya amat anggun mempesona, bertubuh laksana pohon cemara,
memiliki bola mata hitam laksana rusa dan berambut hitam, hitam tebal bergelombang --kok mirip simanja?--. Nama gadis itu bisa ditebak, Layla.

Singkat cerita, Qays terpukau pada gadis itu. Sejak menatap dan kemudian jatuh hati pada Layla, Qays punya kebiasaan baru: Melamun dan merangkai syair.

Berlalu masa, saat orang-orang meminta pertolongan padaku
Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan mengabarkan rahasia jiwaku pada Layla?
Wahai Layla, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya
Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki harta
Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan
Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,
berserak bagai pecahan kaca
Begitulah cinta yang engkau bawa padaku
Dan kini, hatiku hancur binasa
Hingga orang-orang memanggilku si dungu yang suka merintih dan menangis
Mereka mengatakan aku tersesat
Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan
Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan diterpa panas mentari
bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak bisa memejamkan mata
Remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta?

....p.11-12

Dan Ia tak bertepuk sebelah tangan, karena begitu pula layla yang mengungkapkan perasaannya dalam sebuah syair:

Dan semua yang tampak dari manusia adalah kebencian
Namun cinta telah memberi kekuatan pada manusia
Orang-orang yang mencemooh hubungan kita
sesungguhnya mereka tidak tahu, bahwa asmara tersimpan dalam hati.

....p.12

Namun, sekali lagi ada namun, harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan. Oleh karena tingkah Qays (yang berlebihan?), hingga ia gila
dan membuat malu keluarga Layla, maka lahirlah sebuah penghambat yang tanpa ia sadari terlahir dari perilakunya sendiri. Cintanya dihalangi oleh keluarga Layla yang tidak terima anak gadisnya
berpasangan dengan seorang gila.

Berbagai cerita kemudian mengiringi perjalanan mereka, harapan dan peluang silih berganti hadir.
Tetap saja, dinding besar itu terlalu kuat untuk dihadang. Titik temu yang kemudian menyatukan mereka, bernama kematian.


Saturday, July 19, 2003

test


test new template...

gimana? bagus kaga......

pas setting template ini... mon ngabari di ICQ... sayangnya koneksi amburadull :(

Friday, July 18, 2003

"Aku tahu sebelum kamu tahu." Dari segitu banyaknya kalimat yang aku dengar hari ini, cuma penggalan susunan kata-kata itu yang sungguh-sungguh bikin kaget! Karena ternyata : Aku tidak mengenal kekasih ku dengan baik! Aku cuma tahu, bukan mengenal! Hm.. hubungan macam apa yah kalo kek gitu?? Hiks...

Wednesday, July 16, 2003

Tahu nggak kalimat apa yang paling aku sebel?? Kalimat ini nih ...
" Dalam ilmu jurnalistik, kita harus melindungi nara sumber kita " Huaaaaa...
Jadi pengen cepet-cepe matiin HP !!!

Wednesday, July 09, 2003

Frozen...



apa yang terjadi jika sebuah komunikasi membeku? seperti hidup dan mati, baik dan buruk... selalu ada sepasang pilihan untuk menjawabnya....

Perbaiki atau tinggalkan. yah.. itu pilihan untuk situasi yang menjadi pokok bahasan paragraf diatas. Kenapa tiba2 bahas ini? ga tau ya... ada sesuatu yang aneh rasanya dalam tema ini. Selama ini,..dalam berkomunikasi gw selalu berpedoman pada keterbukaan dan kejujuran. Kalo ada yang mengganjal...ada yang dipendam...ada emosi,... keluarkan saja... kenapa harus dipendam dan pura2 ga ada masalah. Setelahnya.... penjelasan bisa disampaikan.,..dan di cari pengertiannya... titik temunya dan akar masalah itu..... ini kadang mudah tak jarang sulit. Tergantung level perkenalannya....

Kalo memang berhadapan denngan kawan atau partner komunikasi yang mengerti, semua akan mudah. kalo tidak? sebaliknya. Semua berantakan.

tapi, ga selamanya pedoman gw itu menghasilkan sesuatu yang baik dan itu gw sadari sebuah resiko.... welll kalo emang ga bisa diperbaiki? bekukan saja.... itu mungkin pilihan terburuk... tapi tetap sebuah pilihan..... kadang emang ironis.... seperti pepatah panas setahun tak terasa akibat hujan sehari.... huehuehee........ sulit sungguh sulit......

Sesuatu.... harus di bekukan.... mulai saat ini. Nyesal? Itu hanya milik jiwa yang kerdil. Dan aku terlalu sering membaca kata itu. Dan tatkala aku membaca kata itu... teringat kalimat SO7...."tak kan pernah menyesal...."



keep fight beibehhhhhhhhhhhhhhh..



Hhhheuhueh...
malam ini banyak kejutan. dan intinya adas pada judul diatas....
berlaku untuk siapa? Siapa aja yang ngerasa.

Gue sendiri.... dan beberapa orang diluar sana. Konflik itu biasa dan hadapi aja dengan kepala dingin. kadang harus ngalah tapi ga selamanya. Kalo emang punya ide yang harus disampaikan.... dan setelah ditimbang-timbang bagus dan baik untuk banyak orang dan banyak sisi... kenapa ngga diperjuangkan aja?

Semua memang punya resiko. Dimusuhi lawan yang menentang ide kita... di cuekin.... but... its no problem kan? kamu kan biasa dan dengan sendirinya terlatih menghadapinya.... so so?

keep fight beibehhh... tunjukin kamu kuat... yang ini berlaku buat sapa aja....................juga yang lagi terjepit...


Om nopi...

kalau nulis tuh mbok ya o nyang pendek...

Kapan ke Lombok?

Monday, June 30, 2003

Test...blogger baru...

Saturday, June 21, 2003

Lucu ya..?



Note: yang ini juga bukan gw yang nulis. Sebuah email berantai yang masuk ke mailbox gw.


Lucu ya...........

>Lucu ya, uang Rp 20,000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke
kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket .

>Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa
pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola .

>Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya
2jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.

>Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa
atausholat,
tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman.

>Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola
favorit
kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulanRamadhan
kelamaan bacaannya.

>Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel best-seller
100 halamanpun habis dilalap.

>Lucu ya, orang bil ang "tentu aja Al-Quran susah dibaca, abis bahasa
Arab sih, kan bukan bahasa kita" Tapi kalo bahasa Inggris orang
berbondong-bondong ingin kursus.

>Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau
konser, dan berebut cari saf paling belakang bila Jumatan agar bisa
cepat keluar.

>Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya agar bisa
disiapkan diagenda kita, tapi untuk acara lain jadwal kita gampang
diubah seketika.

>Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi
mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip.

>Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al Quran (Wah untuk yang ini sih, ngga dong)

>Lucu ya, semua orang penginnya masuk surga tanpa harus beriman,
berpikir,
berbicara ataupun melakukan apa-apa.

>Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, tapi bila ngirim
yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali.

>LUCU YA ?

> "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu'min bahwa
sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (QS.33:47)"


>Tambahan :
Lucu ya, kita semua percaya bahwa setiap yg bernyawa pasti mati, tapi
kelakuan kita tidak seperti orang yg mau mati. (akhlak buruk)

>Lucu ya, kita memarahi anak kita ketika ngga' mau belajar atau
sekolah namun kita tidak memarahi anak kita ketika tidak mau sholat.

>Lucu ya, kita begitu kuat ketika angkat barbel-barbel yg berat, namun
ketika angkat selimut untuk bangun sholat shubuh begitu berat.

>Lucu ya, kita begitu kuat main tennis, main basket dll sampai beberapa
set namun ketika adzan berkumandang kita tidak kuat untuk sholat.

>Lucu ya, ketika berhadapan dgn pekerjaan, kita merasa pekerjaan kita
ini begitu penting dan tidak boleh ditunda-tunda namun ketika panggilan adzan
untuk sholat kita merasa ... ahhhh .. nanti aja .. yg penting khan dikerjakan.

>Lucu ya, kalau bisnis yg untungnya ada (walau sedikit) kita kejar
kemanapun jauhnya namun pahala sholat berjamaah yg begitu besar "keuntungannya" kita
malah......ahhh ... dirumah aja yg dekat & mudah.


HELLO...



note: sorry buat smuanya... gw lom sempet nulis lagi... banyak yang pengen ditulis sebenarnya...cuman..masalah waktu aja. Rada-rada sok buzzie. hehehe.. tapi, gw dapet kiriman sebuah cerita....sebut saja anonymous yang bercerita tentang pengalamannya. Ia pun ngasih judul keren... Dongeng yang Ga ada Indahnya. Mau tau kisahnya? baca aja lanjutannya dibawah ini......dan bandingin gaya tulisannya..... gaya gue banget.....hehhehe...salah satu fans neee......... *GR*

me again...me again..n me again...bosan ya...mudah-mudahan aja ga' bosan heuheuehuee...
enaknya ngapain ya...mmmm aku ngedongeng aja dech..bolehkan..

nge Liat cara hidupmu...aku jadi inget kakakku...ada sedikit persamaan dan banyak perbedaan tentunya..he he he..Ga tau knapa aku jd pengen crt tentang Dia ma kamu..mungkin Ada hal-hal yg bisa qta ambil hikmahnya dr cerita ini..

Jujur aja..AKU..sebagai adik kandungnya bener2 ga ngerti dengan cr pandang & tujuan hidupnya kakakku itu gimana??
Sedikit yang aku tau drnya.. tentang kehidupannya yg dulu...Dimana Dia merasa jalan hidupnya tuh udah diganggu gugat.Planing2 yg udah disusunnya sedemikian rupa jd hancur berantakan, gara2 ada org yg ikut campur tangan dlm kehidupannya...Ga' lain dan Ga' bukan orang itu adalah PAPA ku sendiri...Orang tua yg merasa berhak tuk mengatur kehidupan anak2nya...Papa adalah sosok lelaki yg punya sifat Otoriter, Diktator, Egois, Keras kepala,..dan masih byk lagi yang lainnya.
Sedangkan kakakku..Lelaki yang pendiam, ga banyak ngomong, dan sedikit cuex..

Sama spt anak2 lainnya...masa2 SMU adalah masa2 penentuan buatnya dan mereka pada saat itu...ingin jd Dokter???pasti kulnya di fak kedokteran..ingin jd Insinyur??? ya kul di fak teknik atau pertanian...ingin jd Guru?? ya fak keguruan de el el...Begitu juga dengan kakakku...Dia pgn bgt kul di Fak SOSPOL...ga tau dech tingkat kemenarikannya dimana sehingga dia begitu bercita2 bgt tuk bisa masuk kesono...

Tapi sayang...Papa menghalagi langkahnya...Papa ga pernah ngasih ijin tuk kul di jur SOSPOL..Papa kembali menunjukkan sifat EGOISnya...mers Ia lah yg lebih tau..Ia lah yg paling benar...Katanya "kul di SOSPOL prospeknya ga' bagus..kurang cerah..dan berbagai alasan lain yg sangat memojokkan kakakku saat itu..Padahal menurutku semua jurusan itu mah semuanya sama susahnya klo emang lg susah, sama enaknya klo lg seneng..semuanya tergantung gimana kita menjalaninya…soal kerja?? yahhh kita hrs mampu dong bersaing di dunia kerja…pokoknya semua kembali kekita lagi…Hancur dech semua planing yg dah ada,buyar semuanya...keinginan, cita2, semuanya terbang jauh meninggalkannya sendiri dalam kebisuan dan kebingungan..

Papa memaksanya tuk kul di fak pertanian...mungkin dalam pikirannya inilah jurusan yg tepat buat kakakku… Walau dengan berat hati tapi tetap di jalaninya juga..yaaaahhhhh namanya juga ga IKHLAS...ngejalaninya ya SMAU GWE AJA...tingkah lakunya jadi macem2..semester2 pertama kuliah, dia ikutan majelis2 ISLAMI yang seperti si AMROZI gitu tuh ...LIburan semester pulang kampung dengan penampilan yang beda banget...Rambut Gondrong, Breokan, Janggutnya panjang...udah kaya' manusia jaman JAHILIYAh dulu..pokoknya cukup bikin kaget seisi rumah..termasuk aku yg pada saat itu belon tau apa2...
MAMA saat itu shock berat..liat anaknya yg berubah drastis..beribu tanya ada di kepalanya..ada apakah gerangan???
Yup sidang dimulai…yang bersangkutan di tanyain malah banyak diemnya..bungkam 1000 bahasa ….hanya mengeluarkan beberapa alasan saja..Mama semakin kalut dibuatnya...

Sungguh suatu kebetulan..adiknya mama yg paling kecil seorang ustadzah..yg mungkin ilmu agamanya lebih tinggi..kami terpaksa mengundangnya tuk datang kerumah...Masih terekam jelas dalam ingatanku..malam itu mereka ga tidur satu malam suntuk..mereka berbicara, berdebat, saling mempertahankan pendapatnya masing2...Kulihat Mama malam itu ga tahan menahan air mata yg mulai menetes membasahi pipi. Suaranyapun bergetar karena menahan emosi yang semakin memuncak..berulang kali dia mengatakan dengan terbata-bata.."Pit (nama pnggilan dirmh)...Mama neh lebih mengenal kamu..sejauh mana imanmu,sejauh mana kesungguhanmu dalam jalani ini semua...Mama bukannya ga ngijinin kmu tuk kaya' begini..tapi mama takut klo kamu malah jd ngawur,malah bikin malu keluarga.."

Mungkin omongan Mama begitu sakti..setelah malam itu sedikit demi sedikit ia mulai berubah..hal tersebut terlihat jelas ketika ia kemabali kekampung dengan penampilan yg seperti dulu.... eits..eits.eits...ternyata ulahnya ga sampe disitu aja. Ia mulai bikin Papa n Mama kalut lagi..Kulnya dah mulai angot2an...kadang2 kul..kadang2 liburin diri sendiri...sering pulang kampung tanpa alasan yg jelas...kulnya makin ancur malah dah mo di DO...Papa jd berang,sedangkan mama cm bisa urut2 dada..kemudian kami berembuk satu keluarga..cari jln keluarnya..dan solusi akhir Ia dipindahin ke Univ Swasta...saaat itu mama memohon dengan sangat kepadanya tuk mau menyelesaikan kulnya dengan baik...Mungkin cm Mamalah satu2nya org yg masih di segani dan dihormati olehnya..sehingga perkataan mama mau diturutinya..klo menurutku ..Mama begitu mengerti keadaannya saat itu dan saat skrg..suatu kebahagian terbesar dalam keluargaku..akhirnya ia selesai juga kulnya..

YAng sangat mengherankan ternyata ulahnya ga sampe disitu aja...selesai kul Ia malah ga mo cr kerjaan,bahkan ga mo kerja...ga tau dech maunya apa..kerjanya cuma berbisnis..ga tau bisnis model apa..yg pasti masih halal..kerjaannya ga tetap...
Sama bgt kaya kamu Mas...dari sore ampe malam hobinya keluyuran terus... ga tau kemana..trus tengah malam pulang kerumah cuma buat nonton tv acara bola atau klo ga berita2 politik....trus menjelang pagi mulai molor ampe siang.dan begitu seterusnya...
Kelakuannya bikin papa makin sebel..tak jarang papa selalu mengeluh ke anak2 yg lain termasuk aku...Papa selalu bilang..”Heran..nih anak mo jadi apa klo begini terus…apa dia ga malu ma adik2nya yang lain..adasr pemalas”
Spontan aja kupingku panas denngernya…sedih bgt rasanya..denger papa ngomong begitu dengan anaknya sendiri…napa papa ga pernah ngasih dukungan, motivasi, support dll kok malah malah ngehina, ngupat, semua yg ga enak-enak dech….

Aku termasuk anak yg berani menentang omongan papa…Aku selalu ngomong…”Papa ga bisa berpikiran spt itu…Pa..rezeki org tuh beda2…saat ini mungkin dia jd org pemalas, org susah, miskin..tapai siapa tau besok ataw lusa ataw bulan depan, ataw taon depan…dia jd org sukses, berhasil,…mungkin kita belon liat sekarang Pa…tapi bukan berarti kita mencacinya, melecehkannya…semua dah kita lakuin Pa..ada satu lagi tugas ita Pa’..Do’a Pa…semoga yang diatas selalu memberikan jalan yg terbaik buatnya..”
Klo dah aku ngomong begitu..Papa Cuma bisa diam…..tapi malah aku nya yang ga kuat…buru2 aku ngambil wudhu’..sujud dihadapannya..mengadu…berkeluh kesah..kuruahkan seluruh isi hatiku pada Nya…semoga apa yg aku lakukan ini bener adanya..semoga keluargaku selalu diberi rezeki yg halal,ketentraman,kedamaian yg abadi..amien..ya robbal alamiin..

Do’a ku pun berlaku buat mu mas..sama halnya seperti kakakku…besar harapanku kamu juga bisa berhasil dan suskses dikemudian hari…aku yakin bgt hari itu pasti kan tiba S….dia(kakakku) dan kamu…pasti bisa ngewujudin semua yg pengen kamu wujudkan…jalani dengan kesabaran,yakini dengan niat …okey!!

Tuesday, June 03, 2003

Hening..........




Hening......what da hell is diz?

Sunday, May 25, 2003

Pengen ke Bali lagi.... Tapi... ada yang mo jemput nggak yah??? Huehhehe....

Sunday, May 18, 2003

Ketika Panggilan dari Gunung Tak Bisa Ditolak,,



..panggilan dari gunung,
turun ke lembah..lembah....
.......
kau bawa persoalan...
cerita duka melulu...


Wel,..
cetak miring diatas, kutipan ngawur dari lirik lagu Panggilan dari Gunung puny`e Iwan Fals. Dan kamis minggu lalu ini, gw menerima panggilan itu. Yeap, sejak kamis, jumat sampai sabtu malam kemaren, gw menghabiskan sepanjang waktu dalam perjalanan penuh sensasi ke Gunung Agung, Besakih.

Awalnya, ga ada niat sedikitpun buat mendaki. Kamis pagi itu, gw baru aja bangun dan menikmati segelas kopi didepan kompie ketika dua begundal tua datang, sijenggot dan didin. Ketika mereka datang, ritual paling gue benci adalah memberi kehormatan buat mereka, menghidangkan kopi. Gimana ngga nyebelin, rata-rata sehari gw bisa nerima 4-5 orang temen yang datang, dan mereka datang selang-seling, dan minta kopi. Brengsek ga tu. Gitu dee temen2 gw. Payah, pada gha mau bawa kopi sendiri. Tapi enaknya, ketika gue dateng ke mereka, ga ada alasan bagi mereka menolak membuatkan kopi buat gue.. hehhehe. Setelah ngobrol singkat sana-sini, kami memutus kan lanjut ngopinya di tempat bambang.

Di tempat bambang inilah, --yang malam sebelumnya merasakan kekecewaan yang sama ama gw-- , datang temen lain lagi si hasandari asrama, yang ngajak mendaki. Ceritanya, doi jadi leader, dan ngajak kami gabung bersama. Tanpa Ba bi bu, ajakan itu tak sanggup kami tolak. Aku dan Bambang segera menyanggupi akan berangkat. Didin dan Jenggot yang emang ga hobby, dengan terpaksa diusir dari tempat bambang. Hehehhee. Kami harus segera siap berangkat, karena si Hasan dkk akan berangkat setengah jam kedepan.

Dengan segera kami berkemas, nyari perlengkapan mulai dr kompor, batubara, nasting, sepatu, lalu perbekalan seadanya, dan dua jam kemudian kami sedah ada di kaki gunung agung, lewat jalur pura Besakih. Hmmm.,. dingin banget....

Ketika di pelataran pura Besakih itu, baru aku tau, bahwa tiga diantara peserta itu adalah cewe karena kami sempat ditinggal rombongan si Hasan, gara-gara gw musti nge sol-in sepatu dolo, dan sebagian besar peserta lainnya adalah newbie!!

Banyak cerita, banyak pengalaman, yang akan kuceritakan...tapi tidak sekarang.... mo balikin helm dolo ah...



Heppy B`Day To Haniya's Mom..



wel, gw emang lom kenal, tapi pernah memetik hikmah dr beliau,..ini salah satunya

Smoga panjang umur ... :) 15 Mei Lalu se tepatnya...





Wednesday, May 14, 2003

kecewa..



malam ini, gw tiba-tiba inget....seorang temen, sering banget mengutip satu kalimat dari sebuah lagunya the Cake,"Fren is a four letter word". Aha..dalam bahasa indonesia, teman itu adalah lima buah huruf yang akan begitu-begitu aja jika hanya dibaca dengan kacamata kuda. But, akan terasa beda jika dimaknai lebih dalam...

Bagaimana?

Pernik-pernik disekitarnya, tentu perlu dimainkan...berproses, dan berapresiasi...itu sebagian kecil. Sebagian besar lainnya, gw pernah tulis sebelumnya, so ga perlu diulang. Dan sensasi yang terjadi malam ini, buat gue kecewa... hanya saja lom bisa cerita.... maybe next time....

fren..is a four letter word......