Tuesday, December 31, 2002

Happy New Year 2003




ada yang special tahun lalu? apa harapanmu tahun ini? bagaimana kamu akan penuhi harapanmu itu? dengan apa? Yakin bisa? apa yang mendorongmu pada harapan itu? apa yang akan menghalangi? Bisakah kamu mengatasinya? Sanggupkah? Jika tidak alternatifnya apa? Jika sanggup, akankah tetap menjadikanmu hamba yang baik bagi Tuhanmu? Akankah keberhasilanmu makin mendekatkan engkau padaNya? bersyukurkah engkau atas semua itu?


Allah SWT bersama orang orang yang berani. Ia juga bersama orang-orang yang menempuh jalan kebajikan. Yakinlah.

2003 pengen,....



[23:51:11] eh di tmpt lo dah mo taon bru kan bntr lagi
[23:51:21] 9 menit lagi
[23:51:29] taon dpn lo pgn ngapain?
[23:52:24] gw nanya lho........
[23:52:42] gw..
[23:52:48] pengen beresin kuliah...
[23:52:56] pengen nemuin pasangan jiwa gue
[23:52:56] trus?
[23:53:00] klo dah ketemu...
[23:53:07] gue pengen mengikat hatinya..
[23:53:13] lalu gw pengen menjalankan sebuah usaha
[23:53:21] oh ya?
[23:53:23] apapun itu bentuknya asal halal..
[23:53:26] trus..
[23:53:40] gw pengen ngasih sesuatu yang istimewa buat ibu ma bokap gue..
[23:53:46] beliin baju buat adik gue..
[23:53:57] nyenengin kluarga gue...

Kebahagiaan dan kegembiraan



Jika ditanya apa arti, yang lebih penting, yang kamu pilih atau yang kamu sukai tentang Kebahagiaan dan kegembiraan, apa menurutmu yang pantas dan tepat kupilih?

Uh, menjawabnya, rasanya, seperti kepada gw ditanya soal makan. mana yang kau pilih, makan untuk sebuah kenikmatan, atau untuk sebuah rasa kenyang. Begitu juga dengan kebenaran dan kehadiran dalam melihat titik tolak esensi agama-agama. Mirip-mirip tapi jelas beda. Maksudnya?

Begini. Klo makan kita kenyang, apakah otomatis itu nikmat? Sebaliknya, ketika makan itu nikmat, apakah ia juga kenyang? Gw, beberapa hari ini, makan tu rasanya nikmat banget. Walo ga kenyang-kenyang banget. Kenapa bisa? Prosesnya asyik man! masak sendiri, apa yang ada aja dimasak, dan rame rame. Nickmat banget dee, nasi panas-panas, sambel trasi, ikan asin, sayur paku di tumis. Sedikit, tapi nikmat. Lalu, rasanya kenyang banget. Seharian ga makan lagi juga masih terasa kenyang. Perasaan se.

Begitu juga dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Tau ga, pada akhirnya aku bisa membahasakan ketidakpulanganku pada idul fitry lalu. Kebahagiaan menang atas kegembiraan. Itu intinya, lalu detailnya begini:

Klo misalnya gw balik, pasti gembira. Bagaimana tidak, disana ketemu keluarga, si dilla, rizcha adik2ku sayang, juga tetangga dan yakin, makan enak jajan banyak. Juga kawan-kawan lain. Tapi aku ga yakin akan bahagia disana. gw blom tamat kuliah, orang rumah pasti tanya tanya trus. Trus klo dah gini, jelek banget rasanya. jadi gelisah. Jadi ga bahagia kan?

Lalu disini, apakah gw bahagia? ya, walo tak sepenuhnya. Bagaimana dengan kegembiraan? tidak kurasakan. Aku hanya bahagia. Menikmati saat-saat yang mengharukan, dan mistis. Ada kekuatan mistis yang kurasa. Ah, bangkit lagi deh perasaan itu....

miss u mon...

eh eh..blom sampe pada kesimpulan ya? simpulin sendiri aja dee...., karena itu sebenarnya pilihan.. pilihan atas abstrak dan real, batin dan materi, hati dan mata. Saya memilih abstrak, batin dan hati. kamu?

Serial kampungan

Jupri, Bukan Jepri



Orang kampung, memang kampungan. Dari dulu memamng begitu. Terutama jika orang kota yang mengatakannya, bisa dibilang 100% sah. Tentu saja sah, karena setiap orang punya hak menilai orang lain. Cap kampungan, bisa datang dari banyak sisi. Yang sering terdengar, pertama kali mungkin dari nama, lalu gaya dia bicara, kemudian pembawaan, kemampuan berkomunikasi dan bersambung kemana-mana. Pokoknya banyak.

Buat orang kampung, apalagi di kampungku, nama bagi seseorang tak berarti banyak, kecuali sebagai tetenger --pertanda--.
Dari namanya, dan kemudian panggilan terhadapnya, orang biasanya tau banyak hal. Mulai dari urutan kelahiran, postur tubuh, dan jumlah nama serupa di kampung. Misalnya, Jum Cilik. Itu artinya ia namanya Jum, yang bisa jadi Jumiati atau Jumirah yang punya ukuran body cilik (kecil) atau berusia lebih kecil dibanding jum yang lain yang lebih tua. Kalo ada yang cilik, tentu ada yang gede,
maka karena kebetulan namanya sama-sama jum, dipanggillah ia Jum Gede. Lalu panggilan berasal dari urutan kelahiran,
misalnya anak paling kecil akan umum dipanggil si ragil atau anak pertama si mbarep. Untuk ini, urutan nama, di kampung kami tidak ada aturan atau urutan tertentu seperti di bali, yang mempunyai urutan secara khusus dalam memberi nama. Di Bali, anak pertama adalah Wayan atau Putu, anak kedua made atau Kadek, anak ketiga Nyoman atau Komang, dan ke empat Ketut. Untuk yang terakhir, jangan tambahkan alfabet "N" ya ditengahnya. Bisa berabe. Kalo saja sebuah keluarga anaknya banyak, melebihi jumlah itu, dengan sendirinya akan diputar kembali keatas. Begitu terus. Sedang di kampungku, bisanya namanya berakhiran O atau ber prase depan su. Misalnya sularto, suharno, sugito, suhardi, hartono, parto, dan perempuannya berakhiran ti atau mi. Parmi, jumiyati, kusrini, parti, sulatri, dan seterusnya. Klo gw mungkin kelainan ya, egp ah.

Cerita dilanjutkan, selanjutnya begini.
Di kampungku, ada salah seorang warganya yang bernama Jupri. Aku memanggilnya de' Jupri. De' disini merupakan kependekan dari pakde, yang artinya dianggap lebih tua dari orang tuaku. Jikalau ia dianggap lebih muda, maka dipanggillah ia paklik, tau lik' saja. Perlu dicatat, tua atau muda bukan melulu berasal dari umur, melainkan juga dari silsilah kekeluargaan. Bapaknya De Jupri ini, lebih tua dari bapaknya siMbah, walau usia ibu lebih tua dari pakde jupri ini. Pakde jupri ini, bagiku menarik untuk di lihat lebih jauh. Jika saja ia lahir dikota, seperti yang kutulis diawal tadi, bisa jadi namanya bukan jupri, tapi Jefry atau Goefrey jika di negeri barat sana.

De jupri, orangnya sederhana. Sangat sederhana, untuk tidak mengatakannya miskin. Ia tak sampai menamatkan sekolah dasarnya,
dan sedari kecil terbiasa mengusahakan kebutuhan hidupnya sendiri. Tak terlalu lincah atau gesit dalam pembawaannya, malah bisa dibilang, ia cenderung lelet. Dalam mengerjakan banyak hal, ia lakukan dengan pelan-pelan, dengan kelembutan. Saking lembutnya, seringkali dirasa, pekerjaannya terlalu lambat dan jauh dari produktif. Orang-orang dikampung kami telah memakluminya, dan mengerti. Pada akhirnya, pekerjaan-pekerjaan jantan, tak lagi diberikan padanya. Katakanlah jika ada pekerjaan menggali sumur atau dalam membangun sebuah rumah memerlukan tenaga tukang yang dituntut mengerjakan pekerjaan yang agak sulit, maka de Jupri ini adalah pilihan kesekian diantara pilihan lain.

Kurasa, ia pun mengerti betul kemampuan dirinya, hingga tak ambil peduli terhadap masalah-masalah seperti itu. Ia pun, mempunyai pilihan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdagang, itu pilihannya. Ups, nanti dulu. Jangan bayangkan ia seorang pedagang yang membangun hidupnya dengan perniagaan yang hebat, memiliki kios atau los di pasar. Tidak. Ia tidak sampai berfikir kesana. Baginya, lebih mudah menjual es dan mainan, juga jajan-jajan ringan untuk murid-murid SD disebuah sekolah yang ada
di daerah, sedikit diluar desa kami. Darimana ia jualan? Apakah ia memiliki freezer sendiri untuk membuat es? Tidak, ia tidak punya.
Ia menjual es yang dia ambil dari seseorang lain, yang ia jadikan langganan, lalu ia seusai ia kerja, ia setor berapa yang terjual,
dan ia mendapat untung dari selisih modal yang ia setor dan yang ia jual. Ia menjalankan usahanya itu dengan satu modal, yang percaya atau tidak, sepeda onthel yang sampai hari ini masih digunakannya!

Tak melulu mengandalkan jualan di sekolah dasar, tak jarang ia bekerja diluar kebiasaannya itu. Jikalau disebuah desa ada tanggapan (acara yang diadakan oleh seseorang yang punya hajat), atau ada keramaian tertentu, ia pun memanfaatkan momen itu untuk jualan. Katakanlah, didesa seberang ada tanggapan wayang kulit, atau ada turnamen sepakbola antar RT, maka ia pun membacanya sebagai sebuah peluang untuk dagang. Tak peduli cuaca panas atau teduh seusai hujan, ia tetap jualan. Ramai atau sepi, baginya tak masalah, karena baginya adalah berusaha. Ya, ini kata kuncinya: berusaha. Berusaha menjawab kebutuhan hidupnya dengan apa yang ia mampu usahakan. Tak memaksakan diri menjadi orang lain atau ikut pada orang lain. Ia memiliki dunia sendiri dalam hal ini, dan aku ingat satu kali, ketika sawalan datang --Sawalan adalah perayaan 10 hari setelah hari raya idul fitry, yang biasanya diramaikan dengan berbagai acara di daerah-daerah tertentu--, kami mremo (jualan karena adanya satu event disuatu tempat) di muara demak, yang cukup ramai. Mengasyikkan, membantunya jualan es, dan masih juga diajak pesiar naik perahu seputar muara itu. Sungguh membahagiakan bagi kami.

Kejeliannya berusaha, pun banyak dipuji orang. Beberapa kali, ia menjual barang lain selain es dan jajan. Apa? pasir! pasir? darimana ia peroleh modal? jangan kaget. Ia tak memperolehnya dari mana-mana. Ia tak mengambil dari siapa-siapa. lalu? Ia melihat banyak pasir yang tersisa dari sebuah proyek, yang ternyata tak lagi dibutuhkan si empunya, atau hanya terhampar sia-sia di tepi jalan. Ia pungut itu satu satu, lalu dibawa pulang dan dikumpulkan dirumah. Sehari dua hari ia kumpulkan sedikit demi sedikit, lalu begitu jumlahnya cukup untuk dijual, dijuallah pasir itu dengan keuntungan yang tentu saja lebih besar dibanding jika ia hanya menjual es.
Telaten (teliti, tekun), sangat telaten. Begitu, orang dikampung kami sering memujinya. Ketelatenan dalam mengumpulkan rejeki, sebegitu pula ketelatenannya dalam mengeluarkan uang untuk keperluannya. Ia tau, rumahnya yang ia tinggali bersama ibunya --mbah Lastimah--, kondisinya telah jauh dari memadai. Beberapa bagian rumah itu reot. Sana sini bocor, beberapa bagian dindingnya miring. Maklumlah, rumah yang berdinding gedek dan berlantai tanah itu umurnya sama dengan umur kehidupannya atau bahkan lebih tua? entahlah. Karena itu, ia berniat memperbaiki, agar lebih baik dan pantas untuk ditinggali. Maka, sesuai kemampuannya, ia mulai sedikit demi sedikit. Satu hari ia pulang membawa kaso (Balok kayu) dan reng. Kali lain, ia membawa papan selembar atau dua. Kesemuanya, ia kumpulkan dengan telaten. Maka, ketika semua yang ia kumpulkan dirasa cukup, ia memanggil tukang untuk mengerjakan beberapa bagian yang tak bisa dikerjakannya, seperti membuat kuda-kuda atap atau membuat jendela dan kusennya.
Ketika semuanya siap, ia undang saudara-saudaranya dan warga kampung untuk gotong royong membangun rumahnya.
Oya, de Jupri ini mempunyai tiga saudara, dua kakak dan satu adikknya. satu yang paling tua, tinggal jauh dari kampung kami bersama keluarganya, yang kedua masih dikampung kami begitu juga dengan adikknya yang kesemuanya sudah berkeluarga. Hanya ia yang belum. Tapi tak lama dari paragraf ini, akan sampai ke bagian itu kok. Lalu, mulai lah tradisi kuno di kampung kami itu di rumahnya. Dimulai dengan sarapan pagi bersama, yang juga tentunya dipanjatkan doa, maka dimulailah pekerjaan itu.
Masing masing warga kampung mengerti yang ia kerjakan, para ibu walau tak semua, turut membantu di dapur dan lelakinya mengerjakan pekerjaan lain seperti membongkar gedek, menaikkan genteng dan lainnya. Sampai hari menjelang senja, pekerjaan itu selesai. Lebih bagus kini rumah itu terlihat, hanya dinding depannya belum dipasang kaca masih papan yang tidak berjendela. Lain waktu mungkin akan menyusul, dan waktu yang kemudian menjawab, bahwa memang begitulah adanya.

Rupanya, tak jauh beda dengan kebanyakan orang lain di kampung kami itu, yakni setelah dirasa smua siap, maka bersiaplah ia memasuki tahap lain hidupnya: Menikah. Ya, rupanya perbaikan rumah keluarganya itu, telah dipikirkan jauh hari untuk mempersiapkan bakal pernikahannya, yang ternyata pula ia telah memiliki seorang pilihan perawan desa, dari desa lain, kecamatan lain. Tentu saja, lebih ndeso. Dan sampailah hari bahagia itu, dengan ngetutke penganten ke rumah sang mempelai putri.
Kami sekampung, tua muda, laki perempuan turut bergembira, dan tak menduga bahwa lelaki yang selama ini terlihat klemar-klemer (lelet), mampu memikirkan masa depannya sejauh itu. dan jadilah ia seorang suami, dari seorang istri, yang walaupun juga kampungan, adalah istrinya yang ia nikahi dengan sah. Dalam beberapa hari setelah itu, kampung kami ketambahan satu warga, istrinya de Jupri ini. Tapi tolong jangan tanya siapa namanya, aku sudah lupa. Tapi untuk mudahnya, sebut saja ia bernama Mar.
Nama yang simple dan umum dikampung kami, yang memang kampungan.

Hari pertama kedatangan dan tinggalnya ia dikampung kami, cukup mengundang perhatian. Banyak anak anak kecil seusia kami --ketika itu penulis masih SD--, yang datang tuk sekedar menonton dan melihat warga baru itu. Ramah, teramat ramah. Dan keuntungannya bagi kami yang main kesana itu, karena masih baru, tentu saja stok jajannya masih banyak, maka kami satu-satu dibagi jajan itu. bergembiralah kami, baru kemudian meninggalkannya. Nakal? ngga juga. Kami memang kampungan suka banget sama yang kliatan baru.

Namun tak lama, beredar kabar bahwa mereka tidak serasi, tidak cocok satu sama lain. Entah dimana letak ketidak serasian atau kecocokannya, bagiku itu diluar jangkauanku ketika itu. Yang kutahu, mereka ujung-ujungnya pisah, Cerai. Hanya saja, sebelumnya memang tersiar kabar burung bahwa de Jupri tak mampu melaksanakan kewajibannya sebagai lelaki, yang ternyata tak membahagiakan istrinya itu. Benar demikian? Entahlah.

Walau usah menghadapi masalah yang terhitung pelik itu, De Jupri masih terlihat biasa-biasa saja, tak terlalu banyak ambil peduli. Baginya, hidup ini sudah ada yang ngatur. Ia tinggal menjalani saja. Apakah akan langgeng atau tidak, sudah ada yang ngatur. Pemikiran macam ini pula, yang berada dalam benak banyak warga kampung dan desa seperti desa kami. Walau beberapa bagian telah melek pendidikan, banyak bagian lain yang merem dan tertidur dalam buaian takdirnya. Ngawulo ing gusti Nerimo ing pandhum, mengabdi pada yang maha kuasa, menerima apa takdirnya.

Selang beberapa tahun, aku tak mengikuti perkembangan yang ada di kampung, karena memang tak lagi tinggal disana. jauh, teramat jauh dari kampoung itu, yang ternyata melahirkan bentuk gw yang kayak gini -sexy dan sangar- hehe. Hanya beberapa kabar, yang dapat didengar, disimak, itu pun dari saudara yang kebetulan berkunjung, atau telpon dari desa yang mengabarkan perihal kejadian-kejadian yang menyangkut keluarga dan beberapa hal yang berkaitan.

Selama beberapa tahun itu, banyak kejadian yang menimpa kampung kami. Beberapa warga yang sudah uzur, meninggal dunia, beberapa anak muda sudah menikah, beberapa balita sudah semakin besar. Ketika aku kembali kesana beberapa tahun kemudian, perubahan itu tampak nyata. dan de Jupri, juga berubah! sudah beristri lagi, yang kali ini terlihat bahagia betul dengan apa yang ia terima dan jalani. Ketika itu anaknya baru satu, lalu setahun kemudian bertambah lagi satu, dan dua tahun kemudian total jenderal anaknya ada empat. Luar biasa produktifnya, saingan dengan tetangga lainnya yang telah mengkoleksi 9 anak hingga kini dan paling besar kelas 2 SMP! Bayangkan saja yang perbandingan umur nya, jika katakanlah anak kelas 2 smp kemungkinan berumur 14 tahun, dan ia memiliki 8 adik, maka kemungkinan setiap 1,2 tahun ibunya mengandung. Hebat bener makhluk yang namanya perempuan ini. Lain kali akan kutulis tentang ini.

De jupri, masih seperti dulu, dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Jualan es, jajan dan mainan anak kecil. Begitu tabah ia dengan semua itu, yang nyatanya mampu memberi makan keluarganya. Kini, rasanya kebahagiannya bertambah, ketika si istri ternyata begitu pengertian dan mengerti kemampuannya, dan setia dengan itu smua. Bahkan ia membantu perekonomian keluarnya dengan jualan nasi bungkus, dan mulai menggoreng sendiri jajan yang dijual suaminya. Tentu saja, tuntutan kebutuhannya tak semakin ringan, karena anak-anaknya pun, perlahan smakin tumbuh besar, dan kebutuhan lainnya datang menyusul. sekolah, jajan, mainan. Sambung menyambung, dan itu harus dipenuhioleh mereka, yang telah lama di tinggal oleh Mbah lastimah yang meninggal ketika banjir besar datang di kampung kami, beberapa tahun sebelum kepulangannku.

Lalu, apa se menariknya kisah de jupri ini?
Bagiku, ia adalah cermin lain yang menunjukkan sisi lain wajah hidup ini, yang tak smua mulus. Ia menunjukkan sisi buram masyarakat yang tak memadai tingkat pendidikannya, namun perkasa menghadapi hidup yang terus berlari kencang itu. Dengan ketelatenannya, ketekunannya, ia hadapi smuanya dengan tabah, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Sungguh, ini bergitu bermakna bagiku. Bagimu? entahlah. Hanya engkau yang bisa menjawabnya. Dan tentu saja, tergantung bagaimana engkau membaca cerita ini. Sekadar cerita kosong, atau cerita yang bisa bicara dengan hatimu.

Yang jelas, aku ingin menjadi rakyat indonesia yang beradap, yang berada dalam naungan marhaenisme. Lho? Apa hubungannya? Hehe, aku suka bung karno, dan menyukai ajarannya tentang marhaensme, yang untuk itu aku musti banyak membaca apa-apa yang tak tertulis agar aku bisa menggunakannya dalam cita-cita ini. Ceilee...

Apakah de jupri bisa dikatakan marhaen? Jika secara kasar dikatakan marhain sebagai wong cilik, mungkin benar, tapi jika
mengikuti kata bung karno, bahwa marhaen adalah mereka yang memiliki modal sendiri, memenggarap sendiri, menggunakannya sendiri, yang kelebihannya baru di jual, itulah marhaen, maka de jupri ini belum bisa dikatakan marhaen ia menjual es dari orang lain kan? namun, tak perlu diperpanjang tentang ideologi. Biar otakku yang menatanya dan lain kali menceritakan padamu, isi bagian lain otakku itu.

heppy nu yer ")

Monday, December 30, 2002

Kuta-kuta-kuta

duabelas sepuluh



dua belas oktober tahun duaribu dua
engkau membara, merah mewarnaimu
aku tak disana, jauh teramat jauh
juga tengah membara

tidak merah warnaku,
senyap hitam putih

kubaca isak tangis,
amarah dan pedih menghiasi ronamu
parasmu suram, hilang bingarmu
semua mati, lalu tertunduk
senyap, lantas diam.

tengah malam, beberapa pekan lalu
engkau masih muram ketika aku melintas

gelap, hanya kegelapan
satu dua bule mencoba tertawa,
satu dua drum dihentak, tidak seribu seperti dulu
pesanku, jangan terlalu lama.


Gaibmu



sopir taksi membeli sebuah handphone dari pengunjungmu.
tak ada panggilan, terdengar suara...
its hot..its hot..help..help me..
tergugup ia, dilemparnya perangkat canggih itu.

lain waktu,..
seorang lelaki tua telponnya berdering..
tak ada sapa hello..hanya rintihan..
merintih..terus merintih..

mereka mati terpaksa bukan?
hangus, gosong
yang sebelumnya mulus berbalut sunblock..
tak lebih tampak bagai sate yang terlalu lama diatas bara..

potret buram kemanusian yang diam
doaku, tak ada lagi kegilaan itu.



Sore, Menjelang matahari terbenam



Menjelang ganti tahun, masih seperti dulu
macet, sulit bergerak
hanya saja kini berbeda
kami, pemegang ktp indonesia disana bagai raja
tak lagi terasing seperti dulu

menginjak pantaimu,
tak ada kutang dan bikini berseliweran,
tak ada payudara dibuka
ramai memang, buka si kulit putih

mereka anak beranak anak negeri,
entah terbebas dari krisis atau bangsa ini sudah kembali makmur,
anak beranak itu memenuhi pantaimu
yang dulu, katanya, teramat mahal tuk di injak

walau begitu, masih kulihat payudara mengintip
indah juga warna lokal ini
namun tak mampu menggeliatkan kelelakianku,
engkau tahu?
aku tak bisa konak dengan hati terbelah
karenanya, cepatlah kembali
aku pengen konak


KTP, Tahu, dan Tempe



mereka jadi waspada, teramat waspada
masuk pulaumu, kami diperiksa
ktp, surat-surat, perbekalan
kami mencari pelaku peledakan kata mereka

darimana? mau kemana? tujuannya apa? ada penjamin?
tidak
Pulanglah

dipasar, tahu dan tempe melangit
tetangga sebelah bingung, kenapa mahal
dipasar, kuperoleh jawaban
yang dagang, gak punya ktp mas, ga bisa masuk
kedelai sudah, langka

tetap kubeli, karena hanya itu yang kumampu
hanya akan kutegaskan,
makan tempe bukan bangsa tempe.

nice miss ammy :)~ sapa ya? hehe
aku jatuh cinta
pada sesosok lelaki
penuh senyum manis di bibirnya
tiada lagi lara
hanya kerinduan meraja

Friday, December 27, 2002

senja itu akan selalu kembali...



Mendung itu masih mengintip tatkala adzan berlalu tanpa jawabanmu. Langkah kaki sendu, bergesek pasir, debu dan alas sepatumu.

Rona sayu, lesu namun tegar, hanya dilihat ia yang mampu menerawang relung hati. Seperti pasir yang berbisik kepada angin, tentang mentari yang enggan meninggalkan senja. Burung camar hanya bisa tersenyum ketika itu.

KUsadari, temaram senja dalam lukisanku terlalu suram menggambarmu. Sebuah bisikan lembut tatkala hati bermunajat, "Ia dan engkau, tak lain satu entitas tunggal yang lembut, syahdu, suci dan hidup. Cerahkan hatimu, warnai senja ini dengan senyuman."

Kuayunkan langkah, menyejajarimu dan kugenggam jemarimu. Kuingin bisikkan kata, mari kita jawab bersama panggilan itu.....

Hujan Yang Turun Siang Ini...



Begitu derasnya..dan mengaduk emosi... mengaduk batin.. melayang dalam mimpi..dalam impian, dalam kerinduan.. yeap.. aku kangen mymon. Bagaimana kabarmu hey perempuan yang kucintai?

Malam ini, aku baca kembali arsip blog kita, dan akan kukabarkan pada mereka bagaimana kesetiaan dihati kita. Boleh kan? Kenapa kuingin kabarkan ini pada mereka? agar mereka tau, ada kesucian yang terjaga, ada impian yang terbangun. Kita di dalamnya, walau kiri kanan, kawan dan teman menyerca.

Hey sobat, kutipan dibawah ini, kutipan bagaimana kami tergencet kiri kanan, mereka yang namanya kawan, acapkali tak mampu mengenali apa dan bagaimana kawannya berperasaan, su uzon seringkali bersemayam dihati mereka. Aku pun tak jarang begitu. Satu pembenaran kemudian,"manusia tempat khilap". Namun, tetap akan kusampaikan ini, yang monik tujukan untuk seorang temannya yang menilai jauh dari tepat tentang kami, yang pernah kugubah untuk seorang lain yang berpandangan ---ketika itu-- sama dengan kawan monik itu...

baca ini:

Dear Eva..semua ini aku tulis buat mu..
TENTANG KESETIAAN ITU, NDUK
Nduk, tahukah kau jika seekor nyamuk pun tak berani mengajakku bergurau..sebab di gelap ini tengah kueja sebuah arti dari kata: kesetiaan. Meski ujar orang-orang, kesetiaan di hari ini adalah sebuah kemewahan. Tetapi ucapku: kesetiaan merupakan sebuah keniscayaan dan bukan kemuslihatan picisan jika itu menyangkut perkara antara aku dan dia.
Acapkali aku mendengarkan orang-orang yang datang dari masa yang telah lalu dan membawaiku cerita-cerita tentang sebuah kesetiaan. Tak kuhafal judul yang ada darinya. Tapi syahdan pernah sampai ke telingaku cerita tentang kesetiaaan seorang lelaki yang menunggu kekasih hatinya sampai dia menjadi patung sedang kekasih hatinya yang ditunggunya itu tak datang-datang juga. Sebab katanya, dia sedang pergi untuk membunuh iblis.
Kau, Genduk ayuku, pernahkah kau mendengar cerita tentang betapa setianya kunang-kunang pada malam kendatipun dirinya bertabur hitam? Atau, pernahkah sampai ke telingamu satu cerita tentang setianya seseorang pada kebiasaannya: menulis cerpen, menulis cerpen, dan lagi-lagi menulis cerpen. Apalagi, Nduk?
Sepertinya banyak sekali ragam kelakuan yang kemudian ditengarai menjadi bagian dari cara untuk menyatakan satu kesetiaan.
Pernah aku heran dan lantas kutanyakan kepada hujan yang selalu setia untuk datang di setiap bulan Januari.
“Kenapa mesti di bulan Januari, datangmu itu, wahai engkau hujan?”
“Setiaku tak untuk bulan itu saja kendati aku sedang banyak-banyaknya di bulan itu,” ujar hujan yang mengantarkan basah pada halaman rumahku.
“Itulah yang kumaksud. Maukah kau datang dengan banyakmu itu di awal bulan Mei? Untukmu Genduk sayangku, aku mohon kepada hujan supaya kau rayakan ulang tahunmu dengan bahagia.”,hujan yang selalu kau mau.
Tentu aku inginkan dia datang pada waktu kau berbahagia menghitungi kembali jumlah umurmu. Itu juga, Ndhuk. Tetapi dia tak mau dan menjadikanku dongkol, kendatipun itu hanya sejenak saja sebab akhirnya bisa kusadari kalau itulah yang barangkali dinamakan sebagai sebuah kesetiaan. Setianya hujan pada musim, di luar dari keteledorannya yang datang di saat yang tak tepat. Di luar adat, menyalahi musim
Lantas, masihkah perlu aku jelaskan lagi? Biarlah Nduk, mereka mengejekku, tertawa sinis, meludahiku, menganggapku gila dan aneh tentang perasaanku kepada dia, kekasihku yang jiwaku telah dipinang olehnya. Biarlah ragaku menunggu sejenak tuk mencumbuinya nanti. Kau juga masih meragukan dia kan? walaupun saat ini sebenarnya ingin sekali kusandarkan keresahan hari-hariku kepadamu, tapi sementara waktu aku kan mengurai guratan-guratan rindu disini.
Dan di saat malam yang masih setia antarkan gelap ini, ingin aku pastikan bahwa keniscayaan yang terjadi di antara aku dan dia bukanlah seperti setianya nisan kepada tanah pekuburan.
Nduk..aku mencintainya..cinta berwarna jingga..tulus dari dalam batinku...tolong biarkan aku menyetiainya..
Bontang, Jul 16th
:: Monika 8/4/2002 10:09:22 PM [+] ::
...

Cepat kembali mon.....dan ini, catatan-catatan disini, kurasa umurnya takkan lama. Akan kucukupkan, dan biarlah mereka bersaksi inilah aku.

Thursday, December 26, 2002

2:54 PM 12/26/02

Gigi Marmoot itu...



menyebalkan..
apalagi melihat baju yang dipake waktu itu..uh..
aku lebih suka melihat yang lagi cembelut..didapur ato sama abel..
bukan yang gigi marmoot itu...

tapi kamu gigi marmootku..yang kusayang
yang pernah kusakiti..yang kupaksa engkau membenciku..berhasil ga ya?

kemaren kemaren quit messagenya resah banget kenapa?
lagi kangen sama seseorang? seneng banget klo kangennya sama aku...
tapi kayaknya ngga kan? dan gw juga ga berani berharap untuk dikangenin siapapun saat ini..
kangen itu mahal..palagi klo ujungnya kegelisahan..lebih mahal.
ada apa?
jawab donk..
klo aku..jujur memang dalam trauma yang dalam..bahkan untuk sekadar kangen..
klo ga berbalas,..sakitnya banget banget..
eh..ga cuma banget banget deng..tapi..banget banget banget.......uhu..

Masih suka berenang dirawa-rawa?
pernah ketemu buaya ga? denger denger..
disalah satu danau disana ada makhluk menyeramkan ya?
sejenis swampthing gitu? hiii..gimana coba klo kamu ketangkep? uh..ilang dee gigi marmootku..
trus..jangan suka skin deep! bahaya klo ada mata yang salah sasaran..lagian..apa ngga gatel?
jelek kan jadinya...??

Aku lagi denger lagunya Modena niii...bagus..lembut..judulnya Sortileges. Judul-judul lain ada se..
mau tau? ada Scent, Mayerling, Pierre Pour Un Efants Perdu. Banyak lagi yang lain. tau deh tu artinya apa..
gak penting kan..yang penting iramanya..menyentuh kalbu..Masih suka denger club7? salam buat mereka ya..:D

Eh ya..
Cryptonomiconnya dah selesai?
aku blom..uh..jelek rasanya ga mampu menuhin janji bacanya dalam sebulan..hehehe
masih pengen baca resume ku kan? masih suka baca tulisan2ku?
gimana se perkembangannya? katanya mau review? jadi gaa..?
pengeeeeeeeen banget baca tulisanmu..yang berasal dari hatimu..bukan copy and paste lirik lagu..

yah..berulangkali..kamu bilang ga bakat nulis..
tapi aku tau loo..mana orang yang berbakat dan tidak..
kamu tu ada bakat..cuman sok bz aja..ngapain aja se?
kapan sekolah selesai?
abis itu mau kemana?
dah punya pacar baru pa blom?
kapan nikah?
sama sapa?

hehehe..gw inget ma pertanyaan senada waktu aku cerita mau kerja dulu,...
kamu lupa ya?
ini aku kutip lagi...

[05:14:52] [leak] minggu lalu sekali aja masukk
[05:14:56] [leak] trus...
[05:15:08] [leak] klo aku kerja laguii gimana yaaaa
[05:15:23] [leak_iseng] mo kerja dimana?
[05:15:29] [leak_iseng] brapa jam seminggu?
[05:15:37] [leak_iseng] kapan blajar kapan kerja?
[05:15:41] [leak_iseng] bisa ngatur waktu gak?
[05:15:45] [leak_iseng] mo kapan selesai
[05:15:48] [leak_iseng] ?
[05:15:52] [leak] idihhh
[05:15:55] [leak] banyak nanya nya
[05:16:23] [leak_iseng] biar gue bisa ngetik yg laen lah:D
[05:17:32] [leak] heuhuehuehe
[05:17:35] [leak] idih idih
[05:17:37] [leak] gue kira,,
[05:17:43] [leak] prhatian bangett
[05:17:49] [leak] sampe banyak pertanyaan
[05:17:51] [beep] :D

uhhh......
asli lo log itu..
hanya tandanya aku ubah sedikit, soalnya klo kurung yang ada di nickname tu..
di html kebaca salah satu perintah tag. Jadi ga kliatan..
klo diubah dikit kan jadi kliatan siapa bicara sama siapa..hehehe.
tau? file log itu aku simpen dengan nama apa? hehehe..manja sayang! :P~


eh gigi marmoot..
masih penasaran klo misalnya ketemu gw?
hehehe..dah tanya vera? blom ya? ga berani apa sungkan? apa keduanya? atau dah ga butuh lagi?
hiihihi..banyak inspirasi terlahir dari kamu...

[05:37:10] <^cherry> aduh yg jagoooooo
[05:37:16] <^cherry> aduh
[05:37:31] aduh aduhh
[05:37:33] ada apa yaaaaaa
[05:37:37] sakit ya...
[05:37:41] <^cherry> aduh
[05:37:41] kejepit pintuu?
[05:37:53] <^cherry> :P
[05:37:53] <^cherry> :P
[05:38:01] hehehhee
[05:38:12] <^cherry> lo klo beneran gini gak sih
[05:38:13] say
[05:38:14] <^cherry> ?
[05:38:25] beneran gini gimana..?
[05:38:32] <^cherry> beneran beneraaaaaaaan
[05:38:34] <^cherry> depan2an
[05:38:36] <^cherry> lliat2an
[05:38:40] knapa ngga
[05:38:44] tanya si vera aja,,
[05:38:50] <^cherry> tanya?
[05:38:53] iya
[05:38:55] <^cherry> gak bakal lah
[05:39:03] tanya gimana aku ngadepin orang,..
[05:39:11] orang yang baru kenal..
[05:39:14] lama kenal.,.
[05:39:17] <^cherry> gimanaaaaaaaa
[05:39:19] <^cherry> cerita dunk
[05:39:25] setidaknya si vera dah liat tuu
[05:39:26] :))

kali ini ga usah ditunjukin..siapa bicara yang mana..biar aja mereka nebak nebak..hehehe..
rame ya kita dulu? sampe akhirnya gw harus cari 7 karakter..dan dapat 1002. hehehhehe..tau kan 2 dari sapa,
dan 1000 dari sapa?

sungguh ga nyangka..ujungnya begitu rumit..dan aku tetep ngobrol sama kamu..cerita..
ngadu...curhat gitu ya istilahnya? :P~ abis kamu see..lebih tua dari umur..hehehe
Ah biarin deh..
gw dah terima smua apa adanya...ga terlalu gelisah lagi...

tapi..tapi tapi.....
ada satu pertanyaan....masih nyimpen arsip tulisan yang judulnya
"Wahai Penari, Aku ingin menyuntingmu"?
itu kan lom selesai tu...
mau ga itu diterusin? klo masih nyimpen arsipnya..berarti masih pengen..klo ga..
ya ga jadi dilanjutin dee..
gw lagi nemuin suasana baru nii..
habis idul fitry kemaren..ada rasa yang brubah..ada perasaan yang selama ini hilang muncul lagi..
tau ga? lebaran ga balik..sendiri di kost...
pas buka puasa terakhir..aku netesin airmata..terharu gitu..
inget smuanya...inget dilla, rizcha..opor ayam..juga proses yang aku jalani disini..
trus..pas mau sholat ied..aku kan sendiri tu..naik motor..
diperjalanan aku takbiran sendiri..ga kenceng-kenceng banget..tapi kulantunkan..
ee..dijalan airmata netes lagi...
ada kebahagiaan..walo ga ada kegembiraan...
kemaren sholat dimana kamu?
ada perkumpulan muslim disana?
pa ga sholat? gpp see..itu kan sunnah...ga wajib..tapi nikmat..gitu..
masih nyimpen foto gw ma dilla ma rizcha? dibingkai ya? hohoohohooh..gak kayaknya yaa :P ntar mom nanya lagi..foto sapa tuu...
juga kayaknya ga disimpen yah? dah di del smua?
aku sendiri malah ga ada sama sekali..
sejak hdd rusak dan keformat ulang..ilang smuanya...sedih kann..temen gw sampe ngamuk2..skripsi ada yang ilang..laporan kerja...
blom lagi penawaran temen gw..uh..ilang bersih..juga script2 gw..nyebelinnn banget..
makanya..bantuin ya..nyari script java yang bagus2...apa aja deee..ntar send ke email..inget..di zip! jangan gede2 banget kayak foto gigi marmoot itu..
belajar me-scan yang bagus napa se! :P~

eh eh..foto yang di fade tu sapa? yang dulu itu? crita dunkk...
foto itu beredar pada periode kosong kita...kosong tanpa komunikasi....ah ahhhh...
sudah aaaa....
ga dibales se..segini aja yaa..jangan lupa cek soal artikel penari...

cyass...
salam buat grand, bo sama mom..
Denpasar, 2:23 PM 12/26/02
Hopes this will delivered

Surat Untuk Momz



Dear Momz,.
Ini surat pertama saya untuk anda. Kelak, insya allah akan saya sambung dengan tulisan dan cerita yang lain. Kali ini, hanya ini yang akan kutulis, dengan sedikit debar dalam hati akankah ini sampai. Satu hal yang membuat saya yakin, sebelum hari raya idul fitry lalu, saya titipkan salam kepada Momz, lewat dia lalu katanya, "salam sudah disampaikan".

Oya, maafkan saya menggunakan kata "dear". Hehe, baru ingat, bahwa salam termulia bagi umat islam adalah,
"assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh" (Durotun Nasihin, p.214).

Maksud saya menulis ini, saya ingin diskusi dengan anda. Sejujurnya saya banyak membaca anda lewat Ur new lady.
Anda tau, kami sering diskusi, sering ngobrol, bahkan jika saya mumet, saya pun cari dia, bicara padanya. Anda juga saya yakin tau,
bagaimana kami dulu mula sekali berkenalan, berhubungan sampai saat ini. Banyak likunya, dan saya berulangkali nyakitin si new lady ini. Begitulah saya, nyakitin banyak orang. Tapi, saya juga masih menyimpan kenangan yang tak sedikit diantara kami, dan dari kenangan-kenangan itu, timbul keberanian saya menulis ini.

Lalu, apa yang akan kita diskusikan?
Sedikit bingung sebenarnya untuk memulai ini, namun jemari saya tak juga berenti mengetik, walo mungkin ga nyambung. Nanti gampanglah di edit. Pernah saya baca tulisan si Gigi Marmoot, berisi diskusinya dengan anda, tentang makna proses.
Proses dan kesetiaan didalamnya. Kalau tidak salah ingat, si Gigi Marmoot menulisnya menyambut tanggal 15 Mei. Tanggal yang penuh makna bukan?

Kembali pada proses dan kesetiaan didalamnya, saya baru saja membaca salah satu lirik puisi Muhammad Iqbal, yang bicara tentang makna tujuan dan harapan. Sedikit berbeda dengan proses dan kesetiaan, namun saya rasa menarik disimak. Ini dia puisi itu,

"hidup diabadikan oleh tujuan
oleh tujuan genta kafilah berbunyi
Hidup terpendam dalam mencari
Asalnya sembunyi dalam gairah
Hidupkan gairahmu dalam hati panas cerah
jadikan abumu kecil membesar tugu kenangan
gairah yalah roh dunia ini dari rona wewangian
fitrah setiap suatu itu taat kepada gairah
ingin menggerakkan hati menari dalam dada
dan oleh nyalanya dada kemilau bagai kaca
diberinya tenaga bagi bumi tinggi menjulang
gairah ilah Khidr bagi musa pemunya irfan
hati mengambil hidup dari nyala gairah
dan bila diambilnya hidup segala yang batal mati sirna
bila kendor gairahnya maka patahlah sayapnya
lemah terkulai akhirnya dan tak bisa terbang tinggi"

Apa yang saya dapat dari kalimat-kalimat itu? Hanya satu kata: gairah. Saya kehilangan gairah dalam berproses dan menyetiainya! Lelah, teramat lelah bergulat dalam proses yang menuntut kadar kesetiaan yang teramat tinggi. Aku berproses dalam apa?
Hidup dan semua makna dibaliknya! Jadi ga salah kan saya kutip puisinya iqbal diatas? Hidup yang diabadikan oleh tujuan, dijalani dalam proses yang menuntut kesetiaan. Berikan pada saya, makna lain yang anda tau. Kumohon.

Anda seorang arsitek, yang saya yakin terbiasa bergulat dalam proses dan kesetiaan pada ide. Juga saya yakin, pernah berlelah-lelah didalamnya. Tak salah rasanya, saya menulis ini.

Itu saja untuk kali ini. Untuk si gigi marmoot, alias our new lady, alias simanja, saya akan tulis tersendiri, juga dihalaman ini.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh.

Selamat Jalan Adii_Timus


Selamat Berjuang, selamat menunaikan tugas bangsa, semoga anda menjadi bagian dari masyarakat dunia yang bersahaja. Jangan lupa tetep kontak lewat media ini. Banyak banyak bawa selimut..disono dingin... :P


----------------------------------------------------------------------------------
[16:57:06] *** Now talking in #semarang
[16:57:06] *** Topic is 'http://ircsmg.blogspot.com buat arif leak saudaraku + sahabatku, aku cuman mau pamitan sama kamu, kamu jaga diri baik2 aku kemarin ke bali kesulitan hubungin kamu tapi ndak apa2 aku doakan aja semoga harapanmu terwujud untuk bersatu dengannya. God Bless U arif'
[16:57:06] *** Set by adiii_timus on Wed Dec 25 00:24:24
-----------------------------------------------------------------------------------

Tuesday, December 24, 2002

MESUM



ohhhh...
ahhhhhhhhhhhhh..
ugh..ah..mmmm.

STOP


Ini Mesum,
Bukan Basa Basi!

Potret Negeri 2002



sepi, terus sepi, tanpa dialog
terus monolog,bosan!

bocah dekil, galon aqua dan beras didalamnya
irama bingar dalam desak peluh mayasaribakti..
sedan mengkilap, tahun terbaru melintas
puluhan mata memandang dengan tetes keringat berbaur debu jalan

tak jua sehat negeri kaya ini,
air mata terus menetes
awan mendung gelap,
hujan deras tetap saja pengap

agama, nyawa tanpa makna
semua kering, salah mereka membaca
ada yang salah dikepala mereka,
yang menurunkannya dengan cara keji

rusak, menyebalkan

tempe, tahu, kedelai juga ktp
mahal
apalagi minyak tanah dan solar,
jauh mengawang, memercik pada sekuntum bunga layu
yang kemudian kotor menghitam.

tidakkah mereka membuka matanya?
mulut mulut penuh basa basi, rusak!

aku hanya terdiam, koma, lalu titik.
Tulisan lama, duluuu sekali, pas gi MboaK

Sanur, 22 - 2 - 2002, 22.00 wita,..



Para tetua di desa, dulu, pernah berpesan; makan itu,.nak,..sambil
duduk,..yang tenang dan jangan jalan jalan,..; makan itu nak,..
jangan sambil bicara,..nanti keselek.

itu dulu..ya itu dulu..duluuuuuu sekali!
sekarang beda.
Banyak mereka yang mmh..terpelajar..aha..melupakan nasehat tetua yang terbukti baik, atas nama modernitas. Standing party..hahahhaa
yeap..

satu malam, disebuah hotel keramat disanur, wine nite...tuamuda, perempuan lelaki, dengan berbagai misi menghadiri acara itu..
satu satu..bisik bisik...
seorang tua..dengan santainya berpelukan dengan aha..lebih tepat jadi anaknya. Juga seorang tante...bermasyuk disatu sudut hotel dengan lelaki yang lebih tepat seperti keponakannya.....
bisnis..atas nama bisnis...

aku termenung...
melamunkan itu smua...menatap..dan segelas wine ditangan..sebatang gudang garam dimulut..
ada sesuatu yang beda dengan keseharianku...
ya..
ada nilai yang kurasa masih agak asing..walo bukan sesuatu yang baru..
bisnis tidak hanya butuh kertas, telepon dan seperangkat komputer..ada nuansa lain rupanya...
hohoho..noraknya saya.
Loby..perempuan..wine..:P ah..
sebuah pelajaran berharga..memasuki wilayah macan bergayalah sebagai macan..bergaya tikus..terterkamlah dikau...
ahhahhahha..aku ga mau tertekam..
tapi..tetap tak minat sebagai macan..jadi apa donk? Obat nyamuk!!!!! membakar diri, menemani keramaian dan..melihat secercah cahaya ..walo sekedar tuk menulis..

kembali ke standing party itu...
gerimis hujan menghambat..atau sedikitnya menunda keramaian yang akan hadir malam itu..
seorang penyanyi ibukota meramaikanya...4 lagu...60 juta melayang..hahahha atas nama bisnis.

Lalu...
ah..sungguh bodoh..
dalam pengaruh aroma wine ( yang enak banget itu), tak jarang dijumpai mereka yang berlaku bodoh!
memperlihatkan sesuatu yang tak sepantasnya (bagiku?) atau ah..ini kan modern...

sampai saatnya pesta itu bubar..dan kembali aku melangkahkan kaki keluar hotel itu....berjalan kaki dalam gerimis....menerawang memandang pekatnya malam..
teringat aku malam kemaren..aku musti berburu cabe di kebon tetangga..sekedar tuk mengisi malam itu agar perut ini terisi...dan malam ini...yah...begitulah..

maknakan saja sendiri

Potret Diri, 2002.



rambut memanjang, tak rapi tak pula serasi
kurus, lusuh, kumal, dekil
tetap sombong, tak dengar kata orang
tak bertambah pula isi lemari apalagi rekening

umur terbuang, gratis!
gelas kopi dan kepulan asap gudang garam, monitor dan keyboard

mencoba melangkah, tersandung
berdiri, terjatuh
bangkit, terpelanting
mati, belum saatnya
apalagi?

meringis, mendesis tiada henti
sedikit berubah menjelang ramadhan,
merubah diri usai hari fitry,
tetap tertinggal
tak ada kegembiraan,
hanya kebahagiaan dan airmata

langkah esok, coba sedikit beda.
lebih bijak dan modal yang berharga,
idul fitry yang singgah dan bersemayam disini: dihati

Welcome To Karyn N Ivan



Merry Cristmast Buat Kalian Berdua. Pan, besok gw ma jenggot kesana..siapin yang enak enak ye..:P~
Btw, Karyn Lagi Kasmaran ma sape tu?

Sunday, December 22, 2002

Arip.....Aripp.... makasih udah invite gw hehehehe siip Muwah di udel :D :D
Denpasar, 9:07 AM 12/18/02,.

Gagah Lagi



Kali ini aku akan bercerita tentang satu sosok, yang mungkin pernah kamu kenal, dekat dengan kamu, sepintas pernah tau, beberapa kali berjumpa atau bahkan kamu sendiri. Bisa siapa saja. Untuk mudahnya kita sebut saja ia Mr. Z, dan cerita akan segera dimulai pada kalimat dibawah ini.

Dalam, setahun terakhir ini, mr. Z terus menerus dilanda kegelisahan, gundah dan resah. Tiga rangkaian, perasaan yang seringkali begitu kompak melanda makhluk yang bernama manusia. Ia, merasa gelisah tentang hidupnya, gundah dengan perasaannya sendiri dan resah menatap hari depannya. Lengkap sudah.

Ternyata, perasaan-perasaan itu muncul tatkala ia merasa gagal dalam bercinta. Catat, bukan bercinta dalam arti yang berasal dari
terjemahan bahasa inggris, making love yang maksudnya merhubungan badan. Ini bercinta dalam arti membangun, menumbuhkan dan berada dalam hubungan cinta antar dua insan manusia. Tidak sepenuhnya gagal,
namun ia merasa gagal. Seorang lelaki, mencintai lawan jenisnya itu wajar, dan dari dulu memang begitu.
Walo kemudian banyak di temui gejala-gejala yang menyimpang seperti lelaki menyukai sesamanya, begitu juga dengan perempuan,
namun garis nyata yang terlihat jelas adalah setiap insan, akan selalu berpasangan dengan lawan jenisnya. Bukankah dunia ini
diciptakan dengan berpasang-pasang? Lelaki-perempuan, siang-malam, gelap-terang, dan banyak lagi lainnya.

Mr. Z ini ternyata pula, bukan orang yang bodoh yang tak mengerti bagaimana membangun perasaan,
menjaga dan membuatnya hidup. Ia tau bagaimana meletakkan sisi-sisi perasaan
atas perasaan lain, pilihan atas pilihan lain, prioritas satu terhadap prioritas lain,
dan ia memutuskan bahwa perasaan cinta adalah dasar dari segala perasaan lain. Menurutnya,
jika perasaan cinta --dan tentunya juga dicintai--, akan mampu menjadi landasan yang kokoh bagi
perasaan-perasaan dan langkah-langkah lain dalam hidupnya. Dengan hati yang nyaman,
dengan cinta yang subur dihati, dengan keceriaan cinta, tentu dunia akan terlihat begitu mudah untuk digenggam.
Bukankah ada sebuah pemeo, jika dua orang saling mencintai dunia serasa milik berdua dan yang lainnya kontrak?
Indah, begitu indah memang perasaan cinta itu. Juga sebuah adagium yang menyatakan bahwa jika,
seorang lelaki sudah mampu membangun cinta dengan pasangannya maka ia adalah lelaki sejati. Uhh..padahal,
bagiku, lelaki sejati adalah ia yang bisa membuat hamil seorang perempuan, bukan sekadar berpasangan.

Dengan dasar pemikiran semacam itu, lalu ia membangun cintanya. Banyak persoalan dilaluinya,
dijalani. Ikhlas, dan menerima segala resiko yang mungkin timbul. Namun ada yang ia lupa, bahwa ia bukan penentu hidupnya.
Benar, ia adalah perancang hidupnya dan ia-pun telah berusaha, namun sekali lagi ia bukan penentu.
Hingga, cinta yang sebenarnya bisa dikatakan sukses itu, baginya kemudian ternyata dirasanya gagal.
Tidak, ia tidak bertepuk sebelah tangan, ia juga tidak seperti punduk yang merindukan bulan.
Namun, kembali aku pertegas, ia bukan penentu. Itu saja.

Lalu, atas nama kegagalan versinya itu, ia menjadi terlihat bodoh. Apa yang terjadi? Hidupnya kemudian penuh pertanyaan. ia bertanya,
adakah cinta dihatiku? adakah kehidupan yang bahagia? adakah hari depan itu?inikah penderitaan itu? benarkah aku menderita karena cinta? apa yang akan kuraih dalam hidupku?

Begitu ia terus bertanya, hingga ia lupa bahwa hidup ini bukan untuk bertanya. Ada sesuatu yang lain yang musti ia kerjakan, dan ia telah banyak berubah.
Ia mencari-cari jawaban, ia menrenungi jawaban, namun ia terdiam dalam jawabannya itu. Yang kemudian bisa dilihat, adalah sosok mr. Z,
yang setiap hari luntang-lantung, memikirkan jawaban apa yang bisa ia buat hari ini.

Tubuhnya perlahan menjadi kurus, tampangnya kusut, pucat. Ia terlihat seperti bangkai bernyawa, tak lebih dari itu. kerinduan,
kehinaan, perasaan gagal, dan putus asa silih berganti menyelinapi hari-harinya. Semua itu menjadi siklus yang berputar, tak tentu kapan ia berhenti.
Darisanalah, orang kemudian tau ia bermasalah, ia gelisah. Kerinduannya tak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya,
rasa gelisahnya pun tak mendapatkan jawaban yang pasti.

Tapi ingatkah sobat? Diawal ceritaku ini kukatakan ia bukan orang yang bodoh, hanya terlihat bodoh. Sampai pada akhirnya ia, mencapai perenungan yang dalam,
dan ia menangis, meneteskan air matanya. Ia menyadari, pertanyaan-pertanyaan itu tak dapat dijawabnya sendiri, maka mulailah ia mencari jawaban dari kawan, dan sobatnya.

Tentang cinta, ia mendapat jawaban bahwa cinta berdasar pada ketulusan. Ia tau itu, juga tau kelemahan pernyataan itu. Bagaiamana jika tulusnya ke banyak orang? akankah seorang
akan punya pacar, kekasih banyak? Disini, ia terlihat cerdas, dengan menjawabnya sendiri bahwa jika ketulusan cinta itu berlaku bagi banyak orang, maka itulah universalitas cinta yang agung.
Dari cinta macam ini, maka terlahirlah sosok Bunna Theresa, Gandhi, Mandela, juga Bu Gedong.
Jika kepada perempuan tulusnya ke banyak orang? Proses yang akan membedakannya. Ujian dan tantangan akan menyaringnya satu-satu. Beda kan, bersama cewe yang hanya bersedia jalan hanya karena merk
sebuah kendaraan yang dibawanya, dengan seorang lain yang rela menerima apa adanya?

Dan cerita belum berhenti disini. Mr. Z.,masih bertanya-tanya, hingga kini ia mencari jalan lain. kepada seorang pemuka agama, ia bermaksud meminta nasehat dan saran terhadap masalah yang dihadapinya.
Dari sana ia mendapat keteduhan dari tatapannya dan amalan yang disarankan. Lalu ia jalani itu. Namun, tetap juga ia merasa ada yang kurang, sampai satu saat, di radio didengarnya ceramah agama dari seorang Da`i yang kondang
--bukan Dai Bahtiar yang lagi sukses nangkap Imam samudra--, bahwa kesusahan hidup itu tak perlu di dramatisir. Begitu juga penderitaan dan musibah, karena ia sumbernya sama dengan kebahagiaan yang jarang ditangisi : Allah SWT.
Benar kan? ketika orang dalam kebahagiaan, dalam kegembiraan, lupa ia darimana semuanya berasal. Namun ketika kesusahan sedikit aja datang, segera ia mengeluh, mengiba, bahkan merasa paling menderita.
Terimalah semuanya dengan syukur, dengan rasa ihklas. Gagal dalam bercinta, bukan berarti smua berakhir. Dan bukankah mr Z tidak gagal? Ia yang merasa gagal. Siapa tau, ia yang dicintai tengah mempersiapkan diri untuk nanti bersatu kembali.
Siapa tau juga, Yang Maha Kuasa, belum mengijinkan mereka bertemu, karena mungkin akan membawa persoalan yang lebih besar. Siapa tau pula, kelak akan jadi bersatu dan tak terpisahkan lagi..begitu pada akhirnya Mr. Z berfikir, dan sejak itu ia bisa tersenyum lagi.
Memang, tak jarang ia kembali termenung, tercenung dalam kerinduannya, dalam perasaan-perasaan lamanya, namun kini ia terlihat lebih dewasa. Ia memandang, bahwa mereka yang saling mencintai, satu saat akan bahagia bersama. Ia serahkan
semuanya kepada yang kuasa.

Kemudian, sering kali terdengar, terlihat ia berwudhu di waktu-waktu sholat (sesuatu yang sangat jarang sebelumnya), olahraga dipagi dan sore, dan ia kini terlihat lebih segar.
Satu ketika terdengar ia bersenandung,"aku..gagah lagi..hidupku kini lebih berarti...aku bisa bangun pagi...bisa jogging lagiii..". Bahagia, walau liriknya salah..ah. Its a lil story of mr.Z ,yang sekali lagi,
bisajadi itu kamu, yang pernah kamu dengar, yang pernah kamu kenal, yang terdengar samar-samar.


Wednesday, December 18, 2002

Kuberitahu Engkau Sesuatu: Ini Namanya RINDU!!



Hey Kamu. Taukah kamu? apa yang sedang bersemayam lembut dalam hatiku kini? Sebuah perasaan yang datang menyelisik tanpa permisi, dan mendekam lama, bahkan enggan ia pergi meninggalkanku. Taukah engkau kini? Baik, akan kusampaikan. Sebuah kerinduan, sebuah rasa rindu, sebuah rasa kangen. Adakah lagi kata yang pas untuk melukisnya?

Dan kini, dihadapanku, kupandangi gambarnya, bukan pixel dan grafis. Mereka tak mampu menghadirkannya secara utuh. Selalu ada yang kurang dengan berharap pada keduanya. Karenanya, hanya kubuka apa isi hatinya. Taukah kamu? Ia penuh kerinduan pula, sama dengan yang aku rasakan. Akan kubagi, apa yang kulihat, apa yang kubaca kepada kalian. Untuk menunjukkan, ia yang kucintai, begitu jumawa dalam cintaku.


Ini adalah sebuah Cinta dan sebuah Cermin
Hai Nona,..kutuliskan ini bukan maksudku untuk bermain kata-kata indah. Bukan juga bahasa-bahasa rayuan. Ini adalah sebuah ekspresi. Ekspresi perselingkuhan hati dengan akalku. Ekspresi kerinduan akan klimaksnya rasa emosionalku. Ekspresi kebingungan yang belum juga menemukan terminal akhirnya. Ini adalah sebuah Cinta dan sebuah Cermin.
Sebelumnya kau tahu, sejak beberapa waktu yang lalu aku memiliki sebuah perasaan klasik yang bernama cinta. Sebuah katalisator untuk menemukan kebenaran yang masih absurd-bagimu. Sebuah keindahan tanpa bentuk dan warna, kemerduan tanpa getaran dan suara. Sebuah loncatan kuantum misterius yang menyusup ke balik sel-sel kesadaranku. Sebuah energi yang senantiasa memuai dan menyublim bersama kekosongan kontemplatif menjadi energi yang membingungkan. Sesuatu yang sangat cantik dan halus. Sesuatu yang membakar jiwa ini untuk tetap terjaga. Sesuatu yang kerapkali lupa untuk kubingkai dengan rasa terimakasih dan sujud syukurku.
Lain halnya dengan cermin, dia tidak pernah mampu untuk menampung semua cahaya yang berasal dari obyek di depannya. Hanya sekelumit bayangan yang mampu dia dekap. Sehingga akan selalu ada sisi-sisi yang tidak mampu untuk diungkapkan, sesuatu yang abstrak, gaib, atau mungkin suatu hal yang belum dapat diungkap dalam waktu sekejap. Yang terkadang terasa buram atau amorf.
Padahal seperti juga yang engkau dan aku alami, segala peristiwa dalam hidupku adalah cahaya itu sendiri. Seindah dan sebesar apapun cermin ini tak akan pernah mampu merangkul pergerakan dan volume partikel-pertikel dalam diriku, dalam dirimu dan hidup kita.
Akan tetapi, aku yakin dengan segala kekurangannya, cermin ini, akan berusaha menghantarkanmu menjelajahi sebagian titik-titik rahasiaku.
Sahabat, dengan segala kebodohan dan kekerdilanku, maukah engkau memandangku melalui cermin ini? Hmm.. dengan cinta tentunya..
Come around and see the other side, stepping stones, away from the limelight
Come around and breathe in piece of mind, And for it all, I thank you. I thank you (The Calling,Thank You~Camino Palmero,2001)
*&%$#, 12:18 08/08/2002


Maafkan aku membuka ini kepada mereka, karena dalam hatiku, kerinduan ini sedang bertahta. Takkan goyah, dan engkaulah wahai bunga melati, yang kelak kan menuainya. Bukan siapa-siapa. Jadi, biarlah mereka merasakan sedikit kebahagiaan kita yang tersembunyi. Belum kegembiraan.